Minggu, 28 Agustus 2016

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Keluarga merupakan sebuah sistem yang terdiri dari berbagai perilaku sosial yang berbeda yang dimiliki oleh setiap individu yang berada di dalam sebuah keluarga tersebut. Kehidupan masyarakat khususnya keluarga, tidak akan pernah lepas dari masalah, konflik dan situasi/kejadian yang tidak menyenangkan terkait dengan diri sendiri, orang lain, maupun lingkungan sekitar. Ini merupakan hal yang wajar sebagai suatu tahapan dari pengalaman hidup dan perkembangan diri seseorang.
Ada banyak upaya yang dapat dilakukan untuk menyelesaikan masalah/ krisis keluarga. Ada dengan cara tradisional dan ada pula dengan cara modern atau yang sering disebut dengan cara ilmiah. Pemecahan masalah keluarga dengan cara tradisional terbagi dua bagian. Pertama, kearifan atau dengan cara kasih sayang, kekeluargaan. Kedua orang tua dalam menyelesaikan krisis keluarga terutama yang berhubungan dengan masalah anak dan istri. Cara ilmiah adalah cara konseling keluarga (family conseling). Cara ini adalah yang telah dilakukan oleh para ahli konseling diseluruh dunia. Ada dua pendekatan dilakukan dalam hal ini: 1). Pendekatan individual atau juga disebut konseling individual yaitu upaya menggali emosi, pengalaman dan pemikiran klien. 2). Pendekatan kelompok (family conseling). Yaitu diskusi dalam keluarga yang dibimbing oleh konselor keluarga.
Tujuan utama konseling keluarga adalah untuk memperlancar komunikasi diantara anggota keluarga yang mungkin karena sesuatu hal terputus. Para anggota keluarga berusaha secara bersama-sama untuk mengembangkan komunikasi diantara mereka. Terjadinya hambatan komunikasi mungkin disebabkan oleh beberapa hal antara lain: terjadi konflik antar anggota keluarga ataupun adanya masalah diantara individu-individu dalam keluarga.
Dalam melakukan konseling keluarga diperlukan beberapa teori konseling yang dapat menunjang pelaksanaan konseling, salah satunya yang dibahas dalam makalah ini yaitu logoterapi yang merupakan salah satu bentuk psikoterapi eksistensial yang didasarkan atas analisis arti dari eksistensi seseorang. Pendekatan eksistensial berkembang sebagai reaksi atas dua model utama yang lain, psikoanalisis dan behaviorisme. Pendekatan logoterapi sangat menekankan pada menemukan makna dari penderitaannya dan juga makna mengenai kehidupan dan cinta. Oleh karena itu, dalam penerapan logoterapi dalam konseling keluarga pun ditujukan untuk mencapai tujuan tersebut.
Frankl memperkenalkan logoterapi yang mengakui adanya dimensi spiritual dan memanfaatkannya untuk mengembangkan hidup bermakna (therapy through meaning). Dari asal katanya, logoterapi berasal dari kata ‘logos’ yang berarti ‘meaning’ (makna) dan ‘spirituality’ (kerohanian). Logoterapi digolongkan pada Existential Psychiatry dan Humanistic Psychology
Viktor Frankl berpendapat bahwa kebutuhan manusia yang lebih mendasar adalah kebutuhan untuk hidup bermakna atau berarti. Keinginan untuk mempunyai makna merupakan salah satu kekuatan motivasi yang ada dalam diri manusia bahkan lebih mendasar daripada ‘prinsip kesenangan’ (pleasure principle) dari Freud atau ‘keinginan untuk berkuasa’ dari Adler. Menurut Frankl, seseorang akan menjadi sakit apabila dia tidak lagi mempertanyakan keberadaannya. Hal ini terjadi karena dia tidak dapat lagi berfungsi sebagaimana mestinya atau istilah Frankl manusia itu sedang berada di dalam ‘kekosongan eksistensial’.

B.     Tujuan
Tujuan umum penulisan laporan ini yaitu mengkaji bimbingan dan konseling keluarga berbasis logoterapi. Secara khusus, tujuan penulisan laporan ini sebagai berikut :
1.      Memperoleh wawasan tentang teknik Bimbingan dan Konseling Keluarga Logoterapi.
2.      Memahami tekhnik dalam Bimbingan dan Konseling Keluarga Logoterapi.
3.      Dapat melaksanakan konseling keluarga bedasarkan tekhnik konseling Logoterapy yang telah dipelajari.
















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.    Pengertian Keluarga
Keluarga  adalah  unit  terkecil  dari  masyarakat  yang  terdiri  atas  kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu  atap  dalam  keadaan  saling  ketergantungan.  Dalam  keluarga  terdapat  dua atau  lebih  dari  dua  pribadi  yang  tergabung  karena  hubungan darah, hubungan perkawinan atau   pengangkatan,   di   hidupnya   dalam   satu   rumah   tangga, berinteraksi   satu   sama   lain   dan   di   dalam   perannya   masing-masing   dan menciptakan serta mempertahankan suatu kebudayaan (Sugeng, 2010:19).
Menurut  Pratikno  (2005:13)  ada  beberapa  jenis  keluarga,  yakni : keluarga inti yang terdiri dari suami, istri, dan anak atau anak anak, keluarga konjugal yang terdiri  dari  pasangan  dewasa  (ibu  dan  ayah)  dan  anak-anak  mereka,  di  mana terdapat interaksi dengan kerabat dari salah satu atau dua pihak orang tua. Selain itu  terdapat  juga  keluarga  luas  yang  ditarik  atas  dasar  garis  keturunan  di  atas keluarga   aslinya.   Keluarga   luas   ini   meliputi  hubungan  antara  paman, bibi, keluarga kakek, dan keluarga nenek.
Peranan keluarga menggambarkan seperangkat perilaku antar pribadi, sifat, kegiatan  yang  berhubungan  dengan  pribadi  dalam  posisi  dan  situasi  tertentu. Peranan  pribadi dalam  keluarga  didasari  oleh  harapan  dan  pola  perilaku  dari keluarga, kelompok dan masyarakat (BKKBN, 2012:45).

B.     Stres dalam Keluarga
Stress  merupakan  suatu  reaksi  psikologi  atau  fisiologi  khusus  terhadap  rangsangan  fisik,  mental,  atau  emosi,  baik  dari  dalam  maupun  dari  luar  yang  mempengaruhi  keadaan  keseimbangan  dan  kebahagian  atau  kesejahteraan  (Worthington,  R.B,  &  Rodwell  Williams,  1996).    Vander  (1987)  mendefinisikan  stress  sebagai  rangsangan  lingkungan  baik  fisik  maupun  psikologi  yang  mendatangkan  kelompok  respons
utama tubuh. Faktor  stress  atau  sumber  stress  (sterssor)  dapat  dikelompokkan  kedalam  tiga  kategori  yaitu  :  1)  faktor  fisik  seperti  :  obat,  gangguan  kebisingan  atau  keributan, suhu,  dan  banyak  faktor  lainnya  yang  berhubungan  dengan  pekerjaan,  2)  faktor sosial,  seperti  sakit  serius  atau  kematian  pasangan,  putus  hubungan,  kesepian, perkawinan,  kehilangan  pekerjaan,  perampokan,  dan  kejadian  lain  yang  umumnya tidak  direncanakan,  dan    3)  faktor  psikologi,  merupakan  bentuk  stress yang  paling merusak  dan  melibatkan  rasa  takut,  cemas,  cemburu,  benci,  cinta,  rasa  bersalah (Florence & Setright, 1994).
Faktor   stress   psikologi   lainnya   adalah   kehilangan   (orang   idea,   dan  aspirasi), kegagalan, keadaan tertinggal, penolakan dan kekecewaan (Brown & Bernice dalam Appley  and  Trumbul,  1986).    Sedangkan  menurut  Higgiens  (1990)  seperti dikutip  Herlanti  (1995),  faktor  eksternal  yang  berpengaruh  diantaranya  adalah  perubahan  dalam   kehidupan,   hal-hal   yang   berhubungan   dengan   pekerjaan   maupun   non pekerjaan.    Sedangkan  faktor  internal  yang  berpengaruh  terhadap terjadinya  stress diantaranya adalah tingkat kepercayaan diri, motivasi, keyakinan individu mengenai kehidupan dan kapasitas untuk mengontrolnya, kemampuan menyesuaikan diri, dan tipe  kepribadian.   Tipe  kepribadian  A  (selalu  tergesa-gesa,  kompetitif,  berusaha terlalu keras) seringkali menderita stress terus menerus (Florence & Setright, 1994). Sebaliknya distress merupakan kondisi negatif stress diakibatkan ketidakmampuan pengelolaan stress, termasuk karena tingginya tingkat stress yang diderita.
Distress merupakan suatu kondisi subjektif yang tidak menyenangkan. Dua bentuk  utama  distress  adalah  depresi  dan  anxiety.  Anxiety  merupakan  keadaan  diri  yang ditandai  dengan  tegang,  tidak  dapat  istirahat,  khawatir,  lekas  marah,  dan  takut.   Sedangkan  depresi  merupakan keadaan  diri  yang  ditandai  dengan  perasaan  sedih, kesepian,    demoralisasi,    putus    asa,    masalah    tidur,    menangis,    menginginkan kematian,  usaha  apapun  yang  dilakukan  tidak  berjalan  (Mirrowsky  &  Catherine  E. Ross,  1989).      Sedangkan  menurut  Brown  dan  Bernice dalam Appley  dan  Trumbul (1986) Depresi dapat terjadi jika ada perasaan depresi dan empat gejala dari daftar berikut  ini  :  1)  tidak  ada  harapan,  2)  kehilangan  berat  badan,  3)  susah  tidur,  4) terbangun pagi sekali, 5) kehilangan minat, 6) deapresiasi diri, 7) anergy, 8) menolak melakukan    pengembangan,    9)    susah    berkonsentrasi,    10)    merencakan    atau melakukan bunuh diri (Brown & Bernice Andrews dalam Appley & Trumbul, 1986)

C.    Logotherapy sebagai salah satu pendekatan dalam konseling keluarga
Viktor E. Frankl adalah Profesor dalam bidang neurologi dan psikiatri di The University of Vienna Medical School dan guru besar luar biasa bidang logoterapi pada U.S. International University. Dia adalah pendiri apa yang biasa disebut madzhab ketiga psikoterapi dari Wina (setelah psikoanalisis Sigmund Freud dan psikologi individu Alfred Adler), yaitu aliran logoterapi (Frankl, 1988: 7).
Pada tahun 1942 sampai 1945, Frankl menjadi tawanan di kamp konsentrasi Jerman, dimana orang tuanya, saudara laki-lakinya, isteri dan anak-anaknya mati. Pengalaman mengerikan di kamp konsentrasi tidak pernah hilang dari ingatannya, tetapi dia bisa menggunakan kenangan mengerikan itu secara konstruktif dan tidak mau kenangan itu memudarkan rasa cintanya dan kegairahannya untuk hidup (Corey, 1995: 244). Selama tiga tahun menjadi tahanan tentara NAZI, Frankl telah mengalami sebagai penghuni kamp-kamp Auschwitz, Dachau, Treblinka, dan Maidanek. Kamp-kamp tersebut terkenal sebagai “kamp konsentrasi maut”, dimana ribuan orang Yahudi yang tidak bersalah menjadi sasaran utama program pemusnahan yang intensif oleh Adolf Hitler (Budiraharjo, 1997: 149).
Di dalam kamp konsentrasi itulah, Frankl menyaksikan para tahanan  disiksa, diteror, dan dibunuh secara kejam. Dia sendiri mengalami penderitaan yang luar biasa. Walaupun demikian, di dalam keterbatasannya sebagai manusia, Frankl berusaha turut meringankan penderitaan sesama tahanan, baik secara medis maupun secara psikologis. Dia membesarkan hati mereka yang putus asa dan membantu menunjukkan hikmah dan arti hidup, walaupun mereka dalam keadaan menderita. Sewaktu masuk tahanan dan waktu pembebasan, Frankl juga melakukan pengamatan seksama sebagai reaksi mental dan pola perilaku para tahanan serta menghayati pengalaman dan perasaannya sendiri secara mendalam. Di dalam pengamatannya, Frankl melihat bahwa dalam keadaan yang mencekam dan sarat dengan penderitaan, ada sebagian tahanan yang menunjukkan sikap tabah, bertahan bahkan berusaha membantu sesama tahanan. Namun di lain pihak, sebagian besar tahanan mengalami putus asa, apatis dan kehilangan semangat hidup. Tidak jarang dari mereka melakukan bunuh diri guna membebaskan diri dari penderitannya.
Dari kedua sikap tersebut, Frankl melihat bahwa tahanan yang tetap menunjukkan sikap tabah dan mampu bertahan itu adalah mereka yang berhasil mengembangkan dalam diri mereka tentang harapan-harapan dimana akan tiba saat pembebasan dan dapat bertemu kembali dengan anggota keluarganya, serta meyakini datangnya pertolongan Tuhan dengan berbuat kebajikan, berhasil menemukan dan mengembangkan makna dari penderitaan mereka (meaning in suffering) (Budiraharjo, 1997: 149-150).  
      Logoterapi bertugas membantu pasien menemukan makna hidup. Artinya, logoterapi membuat si pasien sadar tentang adanya logo tersembunyi dalam hidupnya (Frankl, 2004: 165). Logoterapi mengajarkan bahwa manusia harus dipandang sebagai kesatuan raga-jiwa-rohani yang tak terpisahkan. Seorang psikoterapis tidak mungkin dapat memahami dan melakukan terapi secara baik, bila mengabaikan dimensi rohani yang justru merupakan salah satu sumber kekuatan dan kesehatan manusia. Selain itu logoterapi memusatkan perhatian pada kualitas-kualitas insani, seperti hasrat untuk hidup bermakna, hati nurani, kreativitas, rasa humor dan memanfaatkan kualitas-kualitas itu dalam terapi dan pengembangan kesehatan mental (Bastaman, 1996: 16). 
      Adapun  inti  ajaran  logoterapi  dirumuskan  oleh  Joseph  B.  Fabry (1980: 34) sebagai berikut:
1.      Hidup itu bermakna dalam kondisi apapun.
2.      Kita memiliki kehendak hidup bermakna dan menjadi bahagia  hanya ketika kita merasa telah memenuhinya.
3.      Kita memiliki kebebasan – dengan segala keterbatasan – untuk memenuhi makna hidup kita (Bastaman, 1996: 16).

Sedangkan tujuan utama logoterapi adalah meraih hidup bermakna dan mampu mengatasi secara efektif berbagai kendala dan hambatan pribadi. Hal ini diperoleh dengan jalan menyadari dan memahamai serta merealisasikan berbagai potensi dan sumber daya kerohanian yang dimiliki setiap orang yang sejauh ini mungkin terhambat dan terabaikan (Bastaman, 2000: 70). Apabila seseorang tidak mengerti potensi-potensinya, maka tugas utama orang tersebut adalah menemukannya.
      Selain   itu   logoterapi   juga   bertujuan   menolong   pasien   untuk menemukan tujuan dan maksud dalam hidupnya dengan memperlihatkan bernilainya tanggung jawab dan tugas-tugas tertentu. Keyakinan bahwa orang mempunyai tugas yang harus diselesaikan, mempunyai nilai psikoterapeutik dan psikohigienik yang tinggi (Wijaya, 1988: 214).
      Dalam  hal  ini,  terapis  harus  menunjukkan  kepada  pasien  bahwa setiap hidup manusia mempunyai tujuan yang unik yang dapat tercapai dengan suatu cara tertentu. Untuk mencapai tujuan, pasien harus menyelesaikan tugas-tugas tertentu dan bertanggung jawab dengan apa yang dilakukannya.
Penekanan  pada  sikap  bertanggung  jawab  tercermin dalam doktrin logoterapi, yaitu:  “Hiduplah seakan-akan anda sedang menjalani hidup untuk kedua kalinya dan hiduplah seakan-akan anda sedang bersiap-siap untuk melakukan tindakan yang salah untuk pertama kalinya”(Frankl, 2004: 173).
Selain itu dengan menerima tantangan untuk menderita dengan berani, menjadikan hidup memiliki makna sampai detik yang terakhir, dan mempertahankan makna ini, praktis sampai akhir. Dengan kata lain, makna hidup adalah sesuatu yang tanpa syarat, karena dia juga mencakup potensi-potensi yang berbentuk penderitaan yang tidak terhindarkan (Frankl, 2004 : 178-180)




BAB III
PEMBAHASAN

A.    Studi Kasus
1.      Who
Klien yang penulis tangani adalah seorang Ibu yang berinisial MG yang berusia 48 tahun, MG adalah orang tua tunggal karena sekitar 2,5 tahun yang lalu suami Ibu MG meninggal dunia, dan kondisi sekarang MG mengasuh anaknya seorang diri. Ibu MG memiliki seorang anak laki-laki yang berstatus sebagai pelajar SMP yang berusia 15 tahun, dengan inisial PB . Pekerjaan Ibu MG pada saat ini adalah bertani setelah sekitar 7 bulan yang lalu Ibu MG pensiun dari pekerjaan sebagai perawat dari sebuah perusahan perkebunan milik Negara.

2.      What
Permasalahan yang dihadapi Ibu MG adalah selama hampir beberapa tahun belakangan ini, tepatnya satu tahun setengah  setelah kepergian suaminya, sang anak PB mulai menunjukkan sikap yang berbeda. Berdasarkan penuturan sang ibu kepada penulis, perubahan ini di mulai ketika sang anak  (PB) mulai malas untuk pergi bersekolah di mana sebelumnya PB termasuk anak yang tidak malas pergi ke sekolah, mau mengantar ibunya untuk pergi ke ladang dan membantu ibunya bekerja di ladang sepulang sekolah, meskipun sang ibu sudah berusaha untuk membujuk anak ke sekolah, tapi sang anak PB tetap bersikap acuh. Bahkan sang anak mulai meminta banyak hal kepada sang ibu, di mana PB akan bersekolah kembali jika Ibu MG mau membelikannya handphone. Dan agar anaknya mau bersekolah Ibu MG pun membelikan handphone kepada anaknya PB.
Setelah Ibu MG membelikan handphone untuk anaknya PB, PB pun mulai rajin untuk pergi ke sekolah, tapi ternyata hal ini tidak berlangsung lama hanya bertahan selama beberapa bulan karena PB mulai berulah kembali dan mulai tidak masuk ke sekolah. Hal ini di ketahui sang ibu MG karena guru PB menelepon Ibu MG memberitahukan bahwa anaknya PB sudah beberapa hari tidak masuk sekolah dan jika hal ini terus berlangsung maka PB bisa dikeluarkan dari sekolah karena pada saat ini PB sudah duduk di kelas 3 SMP, karena absen PB sudah melebihi batas maksimal yang diijinkan.
Ibu MG berusaha untuk meminta keringanan agar anaknya tidak dikeluarkan dari sekolah dengan datang ke sekolah dan menemui guru, wali kelas dan kepala sekolah anaknya PB. Bahkan Ibu MG sampai ikut ke sekolah agar sang anak PB mau bersekolah, dan menuruti semua keinginan anaknya, dengan membelikan kembali handphone karena ternyata handphone yang dibeli hanya bertahan beberapa bulan dan handphone tersebut sudah hilang.  Semua itu dilakukan Ibu MG agar PB mau bersekolah tapi usaha Ibu MG ini tidak berhasil karena sang anak PB bersikeras untuk tidak mau lagi bersekolah, meskipun Ibu MG sudah menuruti semua keinginan PB dengan membelikan kembali hanphone.
Kelakuan PB ini pun semakin hari semakin parah, di mana PB mulai tidak pulang ke rumah, bahkan handphone yang dibelikan pun hanya bertahan beberapa bulan juga. Dan PB semakin bersikap tidak sopan kepada ibunya dengan memaki dan berkata kasar kepada Ibu MG setiap kali Ibu MG menasehati anaknya untuk berubah.
Dengan kondisi PB yang semakin parah dari hari ke hari maka Ibu MG pun mulai meminta bantuan kepada anggota keluarga lain untuk membimbing dan menasehati anaknya PB. Menurut penuturan Ibu MG sang anak bahkan sudah mulai mengancam sang Ibu, di mana jika Ibu MG tidak memberikan PB uang, PB akan mengeluarkan kata-kata kasar.
Meskipun anggota keluarga lainnya sudah berupaya untuk menasehati dan membimbing PB, hal ini hanya bertahan sementara, PB akan bersikap baik kepada Ibu MG hanya jika di hadapan para anggota keluarga lainnya, jika para anggota keluarga sudah pulang ke rumah mereka masing-masing maka PB akan kembali ke sikap awalnya, mulai bersikap kasar kepada ibunya dan mengamcam ibunya jika tidak diberikan uang atau apapun yang di minta oleh PB.
Ibu MG tidak pernah menyerah untuk anaknya, bahkan Ibu MG selalu menghubungi pihak sekolah agar tetap memberika kesempatan kepada anaknya untuk  tetap bisa bersekolah dan bisa mengikuti UN, setidaknya anaknya bisa menamatkan SMP, meskipun nantinya sang anak tidak mau melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.
Sebagai seorang ibu yang ingin anaknya memiliki masa depan yang lebih baik, Ibu MG tetap berupaya membujuk PB untuk mau bersekolah. Bahkan ketika PB meminta untuk dibelikan motor, Ibu MG menuruti keinginan anaknya dengan membelikan motor agar anaknya mau bersekolah dan mengikuti UN.
Setelah Ibu MG membelikan motor kepada PB, PB pun mau bersekolah dan mengikuti UN, meskipun selama proses tersebut PB tetap saja berulah dengan pulang larut malam bahkan menjelang pelaksaan UN.
Sebagai seorang ibu yang sangat mengasihi anaknya, Ibu MG tidak pernah berhenti untuk melakukan apa yang terbaik buat anaknya, meskipun PB bukan darah dagingnya Ibu MG. Ibu MG tetap berusaha agar anaknya PB tetap mau bersekolah, karena Ibu MG ingin anaknya juga bisa punya masa depan yang lebih baik. Ibu MG berharap suat saat nanti anaknya bisa menjadi seorang Polisi, bahkan Ibu MG sudah menyiapkan tabungan untuk masa depan anaknya.  Ibu MG berkeinginan anaknya mau melanjutkan kembali sekolah ke jengang yang lebih tinggi.

3.      Why
Selama melakukan komunikasi dengan Ibu MG, penulis berupaya untuk mengetahui apa alasan PB tidak mau ke sekolah dan bersikap kasar. Berdasarkan penuturan Ibu MG bahwa PB sudah mengetahui mengenai status PB yang bukan merupakan anak kandung dari Ibu MG, dan mungkin ini adalah salah satu alasan kenapa PB bersikap kasar dan melawan ibunya, karena mungkin ini bentuk pertahanan dirinya di mana PB merasa dirinya akan tidak di sayangi lagi oleh Ibunya.
Ibu MG yang juga berusaha mencari tahu apa sebabnya PB tidak mau lagi bersekolah, ternyata PB merasa malu ke sekolah karena pernah di marahi dan di tampar oleh gurunya di dalam kelas di depan teman-temannya. Guru tersebut memarahi dan  menampar PB dengan alasan karena PB tidak memberikan uang kembalian pembelian buku pelajaran kepada ibunya, karena guru berpesan untuk mengembalikan uang kembalian itu kepada orang tua PB. Sebelumnya Ibu MG menelepon guru tersebut, bahwa Ibu MG telah menitipkan uang buku pelajaran kepada anaknya PB dan jika ada kelebihannya berikan saja kepada PB agar PB saja yang mengembalikan kelebihan uangnya kepada Ibu MG. Esoknya guru PB menanyakan kepada PB apakah sudah mengembalikan uang kelebihannya kepada Ibunya, PB menjawa tidak mengembalikannya karena itu adalah uang ibunya dan ibunya juga tidak akan marah jika dia tidak mengembalikannya karena ibunya juga sudah tahu. Hal ini lah yang membuat guru tersebut marah dan menampar PB di depan teman-temannya dan membuat PB malu untuk kembali bersekolah.
Hal ini juga senada dengan yang disampaikan oleh PB kepada penulis, ketika penulis mulai menjalin komunikasi dengan PB, PB mulai menceritakan apa alasan PB tidak ingin ke sekolah, PB mengatakan bahwa dia merasa malu akan perlakuan gurunya kepada dia yang menampar dan menghina PB di depan temannya. Dan PB juga mengatakan apa alasannya kenapa dia berulah dan bersikap kasar kepada Ibunya.
Menurut penuturan PB, dia merasa bahwa Ibunya tidak memperhatikan apa yang menjadi kebutuhannya, seperti kurangnya makanan yang ada di rumah. PB ingin ibunya menyediakan makanan seperti susu, makanan ringan dan tersedianya makanan siang di rumah ketika dia pulang sekolah. Karena PB merasa ketika dia di titipkan di rumah pamannya, semua makanan tersebut tersedia, dan hal itu yang tidak dia dapatkan di rumah. Dan PB merasa ibunya kurang menepati janjinya, di mana sang ibu berjanji akan mengajak PB untuk berlibur setelah UN selesai antara lain yaitu berjiarah ke kuburuan bapaknya yang ada di Medan.
Ketika penulis bertanya kepada PB, apakah ibu selalu tidak menenpati janji? , PB menuturkan bahwa ibunya selalu tidak tepat janji dan ini sudah berlangsung lama dan hal ini lah yang membuat PB bersikap tidak baik. PB menuturkan bahwa dengan dia membuat ulahlah maka sang ibu akan menuruti keinginannya. Meskipun, selama ini ibunya selalu memberikan apa yang menjadi keinginannya seperti membelikan handphone, motor dan lain sebagainya, menurut PB hal itu diberikan karena dia bersikap kasar terlebih dahulu baru dibelikan.
PB juga menuturkan bahwa salah satu alasan lain dia bersikap tidak baik adalah karena PB merasa ibunya lebih mendengarkan kakak sepupunya dan bibinya yang merupakan adik ibunya. Dan tidak pernah mendengarkan atau mempertimbangkan pendapatnya.


B.     Treatment
Setiap masalah seharusnya ada jalan keluar untuk penyelesaiannya. Demikian juga halnya dengan krisis keluarga yang merupakan masalah keluarga yang amat rumit (Wilis, 2011: 20). Karena harus dicari akar masalahnya lalu ditemukan solusinya. Menurut Wilis (2011 : 20), akar masalah dari krisis keluarga bersumber pada: 1)Ayah, 2) ibu, 3) anak-anak (ibu,bapak, mertua atau orang lain). Jika persoalan bersumber dari internal (ayah, ibu dan anak) mungkin penyelesaiannya akan lebih jelas dan agak mudah.
Dengan bermunculannya masalah keluarga tersebut diatas, maka bimbingan dan konseling keluarga bisa menjadi solusi untuk membantu menyelesaikan masalah keluarga tersebut sehingga dapat tercipta kembali hubungan yang harmonis, akrab, damai dan penuh cinta di dalam hubungan ayah-ibu-anak
Secara umum, tujuan family conseling/therapy (Perez, 1979).  adalah :
1)      Membantu anggota keluarga untuk belajar dan secara emosional menghargai bahwa dinamika kelurga saling bertautan di antara anggota keluarga.
2)      Membantu anggota keluarga agar sadar akan kenyataan bila anggota keluarga mengalami problem, maka ini mungkin merupakan dampak dari satu atau lebih persepsi, harapan, dan interaksi dari anggota keluarga lainnya.
3)      Bertindak terus menerus dalam konseling/terapi sampai dengan keseimbangan homeostasis dapat tercapai, yang akan menumbuhkan dan meningkatkan keutuhan keluarga.
4)      Mengembangkan apresiasi keluarga terhadap dampak relasi parental terhadap anggota keluarga.

Secara khusus, family conseling/therapy bertujuan (Perez, 1979) untuk :
1)      Membuat semua anggota keluarga dapat mentoleransikan cara atau perilaku yang unik (idiosyncratic) dari setiap anggota keluarga.
2)      Menambah toleransi setiap anggota keluarga terhadap frustrasi, ketika terjadi konflik dan kekecewaan, baik yang dialami bersama keluarga atau tidak bersama keluarga.
3)      Meningkatkan motivasi setiap anggota keluarga agar mendukung, membesarkan hati, dan mengembangkan anggota lainnya.
4)      Membantu mencapai persepsi parental yang realistis dan sesuai dengan persepsi anggota keluarga

Secara garis besar, prinsip yang penting dalam pendekatan ini adalah (Perez, 1979).:
1)      Bukan metode baru untuk mengatasi human problem.
2)      Setiap anggota adalah sejajar, tidak ada satu yang lebih penting dari yang lain. Situasi saat ini merupakan penyebab dari masalah keluarga dan prosesnyalah yang harus diubah.
3)      Tidak perlu memperhatikan diagnostik dari permasalahan keluarga, karena hal ini hanya membuang waktu saja untuk ditelusuri.
4)      Selama intervensi berlangsung, konselor/terapist merupakan bagian penting dalam dinamika keluarga, jadi melibatkan dirinya sendiri.
5)      Konselor/terapist memberanikan anggota keluarga untuk mengutarakan dan berinteraksi dengan setiap anggota keluarga dan menjadi “intra family involved”.
6)      Relasi antara konselor/terapist merupakan hal yang sementara.
7)      Relasi yang permanen merupakan penyelesaian yang buruk.
8)      Supervisi dilakukan secara riil/nyata (conselor/therapist center)

Dalam studi kasus ini, penulis mencoba untuk melakukan pendekatan menggunakan logoterapi, di mana klien dibantu untuk menemukan nilai-nilai baru dan mengembangkan filosofi konstruktif dalam kehidupannya. Oleh karena itu, seorang logoterapis tidaklah mengobati gejala-gejala yang tampak pada pasien atau klien secara langsung, akan tetapi mengadakan perubahan sikap neurotik pasien terlebih dahulu. Klien bertanggungjawab pada dirinya sendiri dan logoterapis memberikan dorongan untuk memilih, mencari dan menemukan sendiri makna konkrit dari eksistensi pribadinya. Seorang logoterapis membantu klien untuk menyusun 3 macam nilai yang akan memberi arti pada eksistensi, yaitu : creative values, experiental values, dan attitudinal values.
Dalam proses terapi, klien diperlihatkan bagaimana membuat hidup menjadi penuh arti dengan ‘the experience of love’. Pengalaman ini akan membuatnya mampu menikmati ketulusan, keindahan dan kebaikan dan mampu mengerti akan manusia dengan keunikan-keunikan pribadinya. Dengan demikian, diharapkan klien dapat melihat bahwa penderitaan mungkin sangat berguna untuk membantunya dalam mengubah sikap hidup.Sebagai contoh, situasi yang tidak dapat diperbaiki yang disebut oleh Frankl sebagai ‘takdir’ mungkin harus diterima. “Dimana kita tidak lagi dapat mengubah takdir dengan perbuatan, apapun keadaannya, sikap yang tepat untuk menghadapi takdir adalah kita harus dapat menerimanya”
Ada empat tahap utama didalam proses konseling logterapi diantaranya adalah:
1.      Tahap perkenalan dan pembinaan rapport. Pada tahap ini diawali dengan menciptakan suasana nyaman untuk konsultasi dengan pembina rapport yang makin lama makin membuka peluang untuk sebuah encounter. Inti sebuah encounter adalah penghargaan kepada sesama manusia, ketulusan hati, dan pelayanan. Percakapan dalam tahap ini tak jarang memberikan efek terapi bagi konseli.
2.      Tahap pengungkapan dan penjajagan masalah. Pada tahap ini konselor mulai membuka dialog mengenai masalah yang dihadapi konseli. Berbeda dengan konseling lain yang cenderung membiarkan konseli “sepuasnya” mengungkapkan masalahnya, dalam logoterapi konseli sejak awal diarahkan untuk menghadapi masalah itu sebagai kenyataan.
3.      Pada tahap pembahasan bersama, konselor dan konseli bersama-sama membahas dan menyamakan persepsi atas masalah yang dihadapi. Tujuannya untuk menemukan arti hidup sekalipun dalam penderitaan.
4.      Tahap evaluasi dan penyimpulan mencoba memberi interpretasi atas informasi yang diperoleh sebagai bahan untuk tahap selanjutnya, yaitu perubahan sikap dan perilaku konseli. Pada tahap-tahap ini tercakup modifikasi sikap, orientasi terhadap makna hidup, penemuan dan pemenuhan makna, dan pengurangan symptom.

C.    Tahapan Konseling
Tahap perkenalan dan pembinaan rapport.
Pada tahap ini, penulis mencoba untuk menjalin komunikasi dengan PB, di mana selama ini penulis hanya mendengar dan berkomunikasi dengan Ibu MG. Penulis merasa perlu untuk mengenal dan berkomunikasi dengan PB agar penulis dapat mengetahui lebih dalam apa yang menjadi permasalahan sebenarnya.
Komunikasi dengan PB dilakukan melalui via telepon, di mana sebelumnya penulis dan PB sudah saling mengenal dan pada tahap ini penulis mencoba untuk menciptakan suasana nyaman agar PB mau berbicara dan mencerikan apa yang menjadi masalahnya.
Pada awal berbicara, saya menanyakan apa kabar PB dan apa yang sedang dilakukannya. Karena pada saat ini PB dititipkan di rumah pamannya untuk sementara waktu. Informasi ini saya dapatkan dari Ibu MG, bahwa PB dititipkan di rumah pamannya agar PB bisa dididik dan dibimbing oleh pamannya.
Ketika saya bertanya apa yang dilakukan PB pada saat itu, PB berkata bahwa dia sedang membuat artikel mengenai sejarah, ketika saya mengatakan bahwa itu adalah hal yang bagus dan positif, PB menjawab dengan mengatakan bahwa dia memiliki banyak artikel yang sudah dia tulis selama ini. Dan saya juga memberikan motivasi kepada PB bahwa dia harus terus mengasah kemampuannya tersebut karena dengan berlatih menulis, PB bisa mempunyai kesempatan menjadi penulis terkenal suatu saat nanti jika dia terus melatih kemampuannya tersebut.
Kemudian PB juga menceritakan mengenai niatnya untuk kembali melanjutkan studi nya ke STM dengan mengambil jurusan otomotif. Dan dengan antusias PB kemudian bercerita kalau dia memiliki pengalaman bekerja di bengkel , dia bercita-cita ingin membuka bengkel. Pada tahap ini saya mencoba untuk memberikan motivasi dan mengarahkan PB, bahwa PB bisa mewujudkan cita-cita nya jika PB mau serius belajar dan sekolah. Dan penulis juga mengatakan bahwa jika PB mau mengandalkan Tuhan dan belajar dengan tekun, PB pasti akan menjadi pribadi yang berhasil.
Percakapan pada tahap ini juga memberikan efek terapi bagi konseli.
Tahap pengungkapan dan penjajagan masalah.
Pada tahap ini saya mulai membuka dialog mengenai masalah yang dihadapi PB. Berbeda dengan konseling lain yang cenderung membiarkan konseli “sepuasnya” mengungkapkan masalahnya, dalam logoterapi konseli sejak awal diarahkan untuk menghadapi masalah itu sebagai kenyataan.
Pada tahap komunikasi ini, PB mulai mengungkapkan apa yang dirasakannya. PB mengungkapkan apa yang membuat dia bersikap malas ke sekolah dan berulah selama ini. Di sini PB mengungkapkan apa yang menjadi alasannya dia malas ke sekolah, di mana PB tidak menyukai sikap gurunya yang suka mempermalukan dan bahkan mau menampar siswanya di depan siswa-siswa yang lainnya. PB juga mengatakan bahwa dia pernah ditampar dan di marahi gurunya di depan teman-temannya dan hal inilah yang membua PB enggan ke sekolah karena dia merasa dipermalukan.
PB juga mulai mengungkapkan kekecewaannya terhadap Ibunya yang kurang memperhatikan dirinya. Di sini PB mulai membandingkan perlakuan yang dia peroleh di rumah pamannya , di mana semua makanan tersedia jika dia ingin makan, seperti susu dan makanan lainnya. Karena PB berharap ibunya juga bisa memperlakukan dia seperti perlakuan paman dan bibinya saat ini. Dan PB juga mengutarakan bahwa dia merasa kecewa atas sikap ibunya yang tidak menepati janji untuk mengajaknya berlibur dan membelikan laptop jika dia sudah menyelesaikan SMP.
Di sini saya mencoba untuk memberikan suatu pemahaman kepada PB, bahwa bagaimana selama ini Ibunya mencoba untuk memenuhi semua kebutuhannya sebagai tanda bahwa ibunya sangat mengasihi dan menyayangi PB, tanpa mengungkit dan menyudutkan PB atas semua sikap dan perlakuannya selama ini.
Pada tahap ini saya juga bertanya kepada PB, apakah PB pernah mengungkapkan apa yang dia rasakan kepada ibunya?,  PB berkata bahwa dia belum pernah mengungkapkan apa yang dia rasakan kepada ibunya. Di sini saya mencoba untuk menyarakan agar PB mau menceritakan apa yang dia rasakan kepada ibunya, karena ketika saya mulai memberikan pehamaham kepada PB bagaiamana rasa sayang ibunya selama ini kepadanya membuat PB menangis, bagaimana perjuangan ibunya yang berjuang sendiri untuk mencari uang dan membersarkan PB dan pada tahap ini merasa bersalah atas sikap yang dia perbuat kepada ibunya. Untuk itulah saya menyarankan PB untuk berani mengungkapkan apa yang dia rasakan kepada ibunya dan berani untuk meminta maaf kepada ibunya.
Pada tahap ini PB juga di arahkan untuk lebih melihat ke masa depannya, di mana jika PB ingin mewudujkan cita-citanya maka PB harus mau untuk belajar lebih tekun dan mau memperbaiki dirinya.
Komunikasi dengan PB saya akhiri dengan menanyakan kembali apa masih ada yang menganjal di hatinya dan apakah PB mau berbicara dengan ibunya. Di sini PB mengungkapkan bahwa dia bersedia berbicara dengan ibunya. Dan komunikasi saya akhiri dengan mengucapkan terima kasih kepada PB yang sudah mau bercerita dan percaya kepada saya. Dan saya juga menanyakan kepada PB apakah saya bisa menelepon dia pada esok hari untuk mengetahui bagaimana pembicaraannya dengan ibunya, PB mengatakan kesiapannya.
Pada tahap pembahasan bersama, konselor dan konseli bersama-sama membahas dan menyamakan persepsi atas masalah yang dihadapi. Tujuannya untuk menemukan arti hidup sekalipun dalam penderitaan
Pada tahap ini, saya berusaha untuk menyamakan presepsi atas masalah yang dihadapi oleh dihadapi oleh Ibu MG dan PB. Saya mencoba memberikan motivasi kepada Ibu MG yang merasa sudah gagal menjadi seorang ibu, karena Ibu MG merasa bahwa apa yang dia berikan dan usahakan untuk MG semua sia-sia. Dan Ibu MG merasa bahwa dia adalah pribadi yang sangat tidak beruntung karena setelah ditinggal oleh suaminya, semua permasalahan datang, di mana Ibu MG harus pergi ke ladang sendiri karena selama ini Ibu MG selalu bersama suaminya kemanapun mereka pergi, Ibu MG merasa tidak ada teman untuk berbagi ketika dia sedang mengalami masalah, ditambah dengan kenakalan anaknya  dan dia merasa tidak sanggup untuk menjalani hidupnya.
Dan begitu juga dengan PB yang merasa kekosongan dalam dirinya, selama ini dia merasa tidak ada yang menyayangi dirinya, alasannya karena PB merasa ibunya lebih mendengarkan dan percaya kepada apa yang dikatakan oleh orang lain. Sehingga PB mencari teman ataupun orang lain yang dianggap oleh PB lebih percaya dan perduli kepada dirinya.
Pada tahap ini saya mencoba untuk memberikan penguatan kepada Ibu MG dan PB dengan tidak melihat apa yang mereka alami sebagai suatu penderitaan yang harus diratapi tetapi sebagai sesuatu yang dapat dimaknai dalam hal positif.
Terhadap Ibu MG, saya mencoba untuk memberikan suatu pemahaman bahwa kematian suaminya adalah merupakan bagian dari rencana Tuhan dan tidak seorangpun yang dapat mengelak dari rencana Tuhan tersebut. Pada tahap ini saya juga mencoba mengarahkan Ibu MG agar lebih fokus pada tugas dan tanggungjawabnya sebagai seorang Ibu, di mana Ibu MG masih memiliki anak yang membutuhkan dirinya. Dan saya mencoba untuk mengarahkan Ibu MG untuk meraih hidup  bermakna dan mampu mengatasi secara efektif berbagai kendala dan  hambatan pribadi. Hal ini diperoleh dengan jalan menyadari dan  memahamai serta merealisasikan berbagai potensi dan sumber daya  kerohanian yang dimiliki setiap orang yang sejauh ini mungkin  terhambat dan terabaikan (Bastaman, 2000: 70). Apabila seseorang  tidak mengerti potensi-potensinya, maka tugas utama orang tersebut adalah menemukannya.
Begitu juga dengan PB, pada tahap ini saya mencoba memberikan pengarahan kepada PB bahwa dia juga masih mempunya masa depan dan dapat meraih cita-citanya jika PB punya komitmen untuk rajin belajar dan mau untuk bersekolah. Di sini saya mencoba memberikan gambaran kepada PB jika dia punya komitmen yang tinggi untuk bersekolah maka dia pasti akan mampu mewujudkan cita-cita daripada dia tidak bersekolah dan bergaul dengan teman-teman yang tidak memberikan dampak positif dalam kehidupannya. Misalnya dengan bersekolah PB akan mendapatkan ilmu bagaimana menjadi seorang mekanik yang handal sehingga dengan menjadi mekanik yang handal dia akan mempunyai penghasilan yang lumayan dan bagaimana orang akana menghargai PB jika dia bisa menjadi pribadi yang sukses. Saya mencoba untuk menyampaikan kepada PB, bahwa bagaimana selama ini usaha Ibu MG agar PB bisa bersekolah dan memenuhi hampir setiap kebutuhan PB. Dan menyampaikan kepada PB apa yang seharusnya menjadi tanggungjawabnya sebagai seorang anak dan pelajar, bagaiaman seharusnya dia mengasihi Ibunya yang berjuang sendiri untuk menghidupi kehidupan mereka berdua
Dan saya juga mencoba memberikan motivasi kepada Ibu MG dan PB untuk lebih menemukan makna hidup mereka, bahwa Tuhan pasti mempunyai rencana yang indah dalam kehidupan mereka. Begitu juga kepada PB, bahwa Tuhan akan memberkati anak yang mengasihi orang tuanya dan Tuhan pasti akan mau membantu PB jika PB selalu mengandalkan Tuhan dalam kehidupannya.
Logoterapi bertugas membantu pasien menemukan makna hidup. Artinya, logoterapi membuat si pasien sadar tentang adanya logo tersembunyi dalam hidupnya (Frankl, 2004: 165). Selain   itu   logoterapi   juga   bertujuan   menolong   pasien   untuk  menemukan tujuan dan maksud dalam hidupnya dengan memperlihatkan bernilainya tanggung jawab dan tugas-tugas  tertentu. Keyakinan bahwa orang mempunyai tugas yang harus  diselesaikan, mempunyai nilai psikoterapeutik dan psikohigienik yang tinggi (Wijaya, 1988: 214).
Tahap evaluasi dan penyimpulan mencoba memberi interpretasi atas informasi yang diperoleh sebagai bahan untuk tahap selanjutnya
Pada tahap ini saya mencoba untuk menunjukkan  kepada  Ibu MG dan PB bahwa setiap hidup manusia mempunyai tujuan yang unik yang dapat tercapai dengan suatu cara tertentu. Untuk mencapai tujuan, Ibu MG dan PB harus menyelesaikan tugas-tugas tertentu dan bertanggung jawab dengan apa yang dilakukannya. Dalam rangka mencapai semua itu,   pasien harus berpacu dengan waktu, karena hidup manusia dibatasi oleh kematian dengan apa yang dilakukannya. Dalam rangka mencapai semua itu,   pasien harus berpacu dengan waktu, karena hidup manusia dibatasi oleh kematian. 
      Frankl  menekankan  bahwa  kematian  atau  ketidakkekalan  hidup tidak membuat hidup itu tidak bermakna. Ketidakkekalan hidup lebih  terkait dengan sikap bertanggung jawab, karena segala sesuatunya  tergantung dari kemampuan kita untuk mewujudkan kemungkinan-kemungkinan yang pada dasarnya bersifat tidak kekal (Frankl, 2004:
188).  Jadi  kematian  bukanlah  tidak  berarti,  yang  menjadikan  hidup  terbatas. Seandainya hidup tidak terbatas, maka aktivitas dapat dengan mudah ditunda-tunda, pilihan-pilihan dan keputusan-keputusan menjadi tidak perlu, dan dengan demikian tidak akan ada tanggung jawab.
      Logoterapi    tidak    menyikapi    setiap    penderitaan    (termasuk kematian) secara pesimistis, tetapi secara aktif. Frankl  menekankan  sikap  optimis  dalam  menjalani kehidupan dan mengajarkan bahwa tidak ada penderitaan dan aspek negatif yang tidak dapat diubah menjadi sesuatu yang positif. Karena manusia mempunyai kapasitas untuk melakukan hal itu dan mampu mengambil sikap yang tepat terhadap apa yang
sedang dialaminya

      Logoterapi percaya bahwa perjuangan untuk menemukan makna dalam hidup seseorang merupakan motivator utama orang tersebut. Oleh sebab itu Viktor Frankl (2004: 159-160) menyebutnya sebagai keinginan untuk mencari makna hidup, yang sangat berbeda dengan pleasure principle (prinsip kesenangan atau lazim dikenal dengan
keinginan untuk mencari kesenangan) yang merupakan dasar dari aliran psikoanalisis Freud dan juga berbeda dengan will to power (keinginan untuk mencari kekuasaan), dasar dari aliran psikologi Adler yang memusatkan perhatian pada striving for superiority (perjuangan untuk mencari keunggulan).
      Oleh  karena  itu,  kenikmatan  sekalipun  tidak  dapat  memberi  arti  kepada hidup manusia. Orang yang dalam hidupnya terus menerus mencari kenikmatan, akan gagal mendapatkannya karena ia memusatkannya pada hal-hal tersebut. Orang itu akan mengeluh bahwa hidupnya tidak mempunyai arti yang disebabkan oleh aktivitas -aktivitasnya yang tidak mengandung nilai-nilai yang luhur. Jadi yang penting bukanla aktivitas yang dikerjakannya, melainkan bagaimana caranya ia melakukan aktivitas itu, yaitu sejauh mana ia dapat menyatakan keunikan dirinya dalam aktivitasnya itu.     










BAB III
KESIMPULAN

 Ada banyak upaya yang dapat dilakukan untuk menyelesaikan masalah/ krisis keluarga. Ada dengan cara tradisional dan ada pula dengan cara modern atau yang sering disebut dengan cara ilmiah. Pemecahan masalah keluarga dengan cara tradisional terbagi dua bagian. Pertama, kearifan atau dengan cara kasih sayang, kekeluargaan. Kedua orang tua dalam menyelesaikan krisis keluarga terutama yang berhubungan dengan masalah anak dan istri. Cara ilmiah adalah cara konseling keluarga (family conseling).
Dalam melakukan konseling keluarga diperlukan beberapa teori konseling yang dapat menunjang pelaksanaan konseling, salah satunya yang dibahas dalam makalah ini yaitu logoterapi yang merupakan salah satu bentuk psikoterapi eksistensial yang didasarkan atas analisis arti dari eksistensi seseorang. Pendekatan eksistensial berkembang sebagai reaksi atas dua model utama yang lain, psikoanalisis dan behaviorisme. Pendekatan logoterapi sangat menekankan pada menemukan makna dari penderitaannya dan juga makna mengenai kehidupan dan cinta. Oleh karena itu, dalam penerapan logoterapi dalam konseling keluarga pun ditujukan untuk mencapai tujuan tersebut.   
 Logoterapi    tidak    menyikapi    setiap    penderitaan    (termasuk kematian) secara pesimistis, tetapi secara aktif. Frankl  menekankan  sikap  optimis  dalam  menjalani kehidupan dan mengajarkan bahwa tidak ada penderitaan dan aspek negatif yang tidak dapat diubah menjadi sesuatu yang positif. Karena manusia mempunyai kapasitas untuk melakukan hal itu dan mampu mengambil sikap yang tepat terhadap apa yang sedang dialaminya.
Logoterapi bertugas membantu pasien menemukan makna hidup. Artinya, logoterapi membuat si pasien sadar tentang adanya logo tersembunyi dalam hidupnya (Frankl, 2004: 165). Selain   itu   logoterapi   juga   bertujuan   menolong   pasien   untuk  menemukan tujuan dan maksud dalam hidupnya dengan memperlihatkan bernilainya tanggung jawab dan tugas-tugas  tertentu. Keyakinan bahwa orang mempunyai tugas yang harus  diselesaikan, mempunyai nilai psikoterapeutik dan psikohigienik yang tinggi (Wijaya, 1988: 214).








DAFTAR PUSTAKA

Frankl, V. E (1984).man’s Search for Meaning. New York : Washington Square Press.
Frankl, V. E (2004). Logoterapi : Terapi Psikologi Melalui Pemaknaan Eksistensi. Yogyakarta : Kreasi Wacana.
Bastaman, H.D. (2007). Logoterapi “Psikologi untuk Menemukan Makna Hidup dan Meraih Hidup Bermakna”. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
___________ (1996) Meraih Hidup Bermakna. Kisah Pribadi dengan Pengalaman Tragis.Jakarta : Paramadina.
Budiraharjo, (1997) Mengenal Teori Kepribadian Mutakhir Yogyakarta : Kanisus
Boeree, C George.. (2005). Personality Theories. Jogjakarta : Prismasophie.
BKKBN. (2012), Evaluasi Program Kependudukan dan KB,Semarang
Fabry, Joseph B, (1980), Pursuit of Meaning, New York : Harper and Row
Gerald Corey. (2007). Teori dan Praktek Konseling. Bandung: PT Refika Aditama
Willi’s, Sofyan S. (2004). Konseling Individul Teori dan Praktek. Bandung : Alfabeta.
Willis, Sofyan S. (2011). Konseling Keluarga. Bandung : Alfabeta
Koeswara, E. (1992). Logotherapy : Psikoterapi Victor Frankl.Yogyakarta : Kanisus
Perez, Joseph F. (1979.) Family Counseling : Theory and Practice. New York, Van Nostrand, Co
Wijaya Juhana , (1988),Psikologi Bimbingan,Bandung: PT. Eresco,
Mirowsky, John, dan Catherine E. Ross.  1989.  "Psychiatric Diagnosis as Reified Measurement." Journal of Health and Social Behavior. 30(1): 1 1-25
Ross, Catherine E., and John Mirowsky. 1989. "Explaining the Social Patterns of Depression:
Control and Problem-solving -- or Support and Talking." Journal of Health and Social
Behavior. 30(2): 206-1 9
Praktikno. (2005). Mobilitas Penduduk. Jakarta: Rajawali Press
Sugeng. (2010). Pengertian Keluarga. Jakarta : Erlangga