BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Keluarga merupakan
sebuah sistem yang terdiri dari berbagai perilaku sosial yang berbeda yang
dimiliki oleh setiap individu yang berada di dalam sebuah keluarga tersebut.
Kehidupan masyarakat khususnya keluarga, tidak akan pernah lepas dari masalah,
konflik dan situasi/kejadian yang tidak menyenangkan terkait dengan diri
sendiri, orang lain, maupun lingkungan sekitar. Ini merupakan hal yang wajar
sebagai suatu tahapan dari pengalaman hidup dan perkembangan diri seseorang.
Ada banyak upaya yang
dapat dilakukan untuk menyelesaikan masalah/ krisis keluarga. Ada dengan cara
tradisional dan ada pula dengan cara modern atau yang sering disebut dengan
cara ilmiah. Pemecahan masalah keluarga dengan cara tradisional terbagi dua bagian.
Pertama, kearifan atau dengan cara kasih sayang, kekeluargaan. Kedua orang tua
dalam menyelesaikan krisis keluarga terutama yang berhubungan dengan masalah
anak dan istri. Cara ilmiah adalah cara konseling keluarga (family conseling).
Cara ini adalah yang telah dilakukan oleh para ahli konseling diseluruh dunia.
Ada dua pendekatan dilakukan dalam hal ini: 1). Pendekatan individual atau juga
disebut konseling individual yaitu upaya menggali emosi, pengalaman dan
pemikiran klien. 2). Pendekatan kelompok (family conseling). Yaitu diskusi
dalam keluarga yang dibimbing oleh konselor keluarga.
Tujuan utama konseling
keluarga adalah untuk memperlancar komunikasi diantara anggota keluarga yang
mungkin karena sesuatu hal terputus. Para anggota keluarga berusaha secara
bersama-sama untuk mengembangkan komunikasi diantara mereka. Terjadinya
hambatan komunikasi mungkin disebabkan oleh beberapa hal antara lain: terjadi
konflik antar anggota keluarga ataupun adanya masalah diantara
individu-individu dalam keluarga.
Dalam melakukan konseling keluarga diperlukan beberapa teori
konseling yang dapat menunjang pelaksanaan konseling, salah satunya yang
dibahas dalam makalah ini yaitu logoterapi yang merupakan salah satu bentuk
psikoterapi eksistensial yang didasarkan atas analisis arti dari eksistensi
seseorang. Pendekatan eksistensial berkembang sebagai reaksi atas dua model
utama yang lain, psikoanalisis dan behaviorisme. Pendekatan logoterapi sangat
menekankan pada menemukan makna dari penderitaannya dan juga makna mengenai
kehidupan dan cinta. Oleh karena itu, dalam penerapan logoterapi dalam
konseling keluarga pun ditujukan untuk mencapai tujuan tersebut.
Frankl memperkenalkan logoterapi yang mengakui adanya
dimensi spiritual dan memanfaatkannya untuk mengembangkan hidup bermakna
(therapy through meaning). Dari asal katanya, logoterapi berasal dari kata
‘logos’ yang berarti ‘meaning’ (makna) dan ‘spirituality’ (kerohanian).
Logoterapi digolongkan pada Existential Psychiatry dan Humanistic Psychology
Viktor Frankl berpendapat bahwa kebutuhan manusia yang
lebih mendasar adalah kebutuhan untuk hidup bermakna atau berarti.
Keinginan untuk mempunyai makna merupakan salah satu
kekuatan motivasi yang ada dalam diri manusia bahkan lebih mendasar daripada
‘prinsip kesenangan’ (pleasure principle) dari Freud atau ‘keinginan untuk
berkuasa’ dari Adler. Menurut Frankl, seseorang akan menjadi sakit apabila dia
tidak lagi mempertanyakan keberadaannya. Hal ini terjadi karena dia tidak dapat
lagi berfungsi sebagaimana mestinya atau istilah Frankl manusia itu sedang
berada di dalam ‘kekosongan eksistensial’.
B.
Tujuan
Tujuan umum penulisan laporan ini
yaitu mengkaji bimbingan dan konseling keluarga berbasis logoterapi. Secara
khusus, tujuan penulisan laporan ini sebagai berikut :
1.
Memperoleh wawasan tentang teknik Bimbingan
dan Konseling Keluarga Logoterapi.
2.
Memahami tekhnik dalam Bimbingan dan
Konseling Keluarga Logoterapi.
3.
Dapat melaksanakan konseling keluarga
bedasarkan tekhnik konseling Logoterapy yang telah dipelajari.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
A.
Pengertian
Keluarga
Keluarga adalah
unit terkecil dari
masyarakat yang terdiri
atas kepala keluarga dan beberapa
orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap
dalam keadaan saling
ketergantungan. Dalam keluarga
terdapat dua atau lebih
dari dua pribadi
yang tergabung karena
hubungan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan, di
hidupnya dalam satu
rumah tangga, berinteraksi satu
sama lain dan
di dalam perannya
masing-masing dan menciptakan
serta mempertahankan suatu kebudayaan (Sugeng, 2010:19).
Menurut Pratikno
(2005:13) ada beberapa
jenis keluarga, yakni : keluarga inti yang terdiri dari
suami, istri, dan anak atau anak anak, keluarga konjugal yang terdiri dari
pasangan dewasa (ibu
dan ayah) dan
anak-anak mereka, di
mana terdapat interaksi dengan kerabat dari salah satu atau dua pihak
orang tua. Selain itu terdapat juga
keluarga luas yang
ditarik atas dasar
garis keturunan di
atas keluarga aslinya. Keluarga
luas ini meliputi
hubungan antara paman, bibi, keluarga kakek, dan keluarga
nenek.
Peranan
keluarga menggambarkan seperangkat perilaku antar pribadi, sifat, kegiatan yang
berhubungan dengan pribadi
dalam posisi dan
situasi tertentu. Peranan pribadi dalam
keluarga didasari oleh
harapan dan pola
perilaku dari keluarga, kelompok dan
masyarakat (BKKBN, 2012:45).
B.
Stres
dalam Keluarga
Stress merupakan
suatu reaksi psikologi
atau fisiologi khusus
terhadap rangsangan fisik,
mental, atau emosi,
baik dari dalam
maupun dari luar
yang mempengaruhi keadaan
keseimbangan dan kebahagian
atau kesejahteraan (Worthington,
R.B, & Rodwell
Williams, 1996). Vander
(1987) mendefinisikan stress
sebagai rangsangan lingkungan
baik fisik maupun
psikologi yang mendatangkan
kelompok respons
utama tubuh. Faktor stress
atau sumber stress
(sterssor) dapat dikelompokkan
kedalam tiga kategori
yaitu : 1)
faktor fisik seperti
: obat, gangguan
kebisingan atau keributan, suhu, dan
banyak faktor lainnya
yang berhubungan dengan
pekerjaan, 2) faktor sosial, seperti
sakit serius atau
kematian pasangan, putus
hubungan, kesepian,
perkawinan, kehilangan pekerjaan,
perampokan, dan kejadian
lain yang umumnya tidak
direncanakan, dan 3)
faktor psikologi, merupakan
bentuk stress yang paling merusak dan
melibatkan rasa takut,
cemas, cemburu, benci,
cinta, rasa bersalah (Florence & Setright, 1994).
Faktor stress
psikologi lainnya adalah
kehilangan (orang idea,
dan aspirasi), kegagalan, keadaan
tertinggal, penolakan dan kekecewaan (Brown & Bernice dalam Appley and
Trumbul, 1986). Sedangkan
menurut Higgiens (1990)
seperti dikutip Herlanti (1995),
faktor eksternal yang
berpengaruh diantaranya adalah
perubahan dalam kehidupan,
hal-hal yang berhubungan
dengan pekerjaan maupun
non pekerjaan. Sedangkan faktor
internal yang berpengaruh
terhadap terjadinya stress
diantaranya adalah tingkat kepercayaan diri, motivasi, keyakinan individu mengenai
kehidupan dan kapasitas untuk mengontrolnya, kemampuan menyesuaikan diri, dan
tipe kepribadian. Tipe
kepribadian A (selalu
tergesa-gesa, kompetitif, berusaha terlalu keras) seringkali menderita
stress terus menerus (Florence & Setright, 1994). Sebaliknya distress merupakan
kondisi negatif stress diakibatkan ketidakmampuan pengelolaan stress, termasuk
karena tingginya tingkat stress yang diderita.
Distress merupakan
suatu kondisi subjektif yang tidak menyenangkan. Dua bentuk utama
distress adalah depresi
dan anxiety. Anxiety
merupakan keadaan diri
yang ditandai dengan tegang,
tidak dapat istirahat,
khawatir, lekas marah,
dan takut. Sedangkan
depresi merupakan keadaan diri
yang ditandai dengan
perasaan sedih, kesepian, demoralisasi, putus
asa, masalah tidur,
menangis, menginginkan kematian, usaha
apapun yang dilakukan
tidak berjalan (Mirrowsky
& Catherine E. Ross,
1989). Sedangkan menurut
Brown dan Bernice dalam Appley dan Trumbul
(1986) Depresi dapat terjadi jika ada perasaan depresi dan empat gejala dari
daftar berikut ini :
1) tidak ada
harapan, 2) kehilangan
berat badan, 3)
susah tidur, 4) terbangun pagi sekali, 5) kehilangan minat,
6) deapresiasi diri, 7) anergy, 8) menolak melakukan pengembangan, 9)
susah berkonsentrasi, 10)
merencakan atau melakukan bunuh
diri (Brown & Bernice Andrews dalam Appley & Trumbul, 1986)
C.
Logotherapy
sebagai salah satu pendekatan dalam konseling keluarga
Viktor E. Frankl adalah Profesor dalam bidang neurologi dan
psikiatri di The University of Vienna Medical School dan guru besar luar biasa
bidang logoterapi pada U.S. International University. Dia adalah pendiri apa
yang biasa disebut madzhab ketiga psikoterapi dari Wina (setelah psikoanalisis
Sigmund Freud dan psikologi individu Alfred Adler), yaitu aliran logoterapi
(Frankl, 1988: 7).
Pada tahun 1942 sampai 1945, Frankl menjadi tawanan di kamp konsentrasi
Jerman, dimana orang tuanya, saudara laki-lakinya, isteri dan anak-anaknya
mati. Pengalaman mengerikan di kamp konsentrasi tidak pernah hilang dari
ingatannya, tetapi dia bisa menggunakan kenangan mengerikan itu secara
konstruktif dan tidak mau kenangan itu memudarkan rasa cintanya dan
kegairahannya untuk hidup (Corey, 1995: 244). Selama tiga tahun menjadi tahanan
tentara NAZI, Frankl telah mengalami sebagai penghuni kamp-kamp Auschwitz,
Dachau, Treblinka, dan Maidanek. Kamp-kamp tersebut terkenal sebagai “kamp
konsentrasi maut”, dimana ribuan orang Yahudi yang tidak bersalah menjadi
sasaran utama program pemusnahan yang intensif oleh Adolf Hitler (Budiraharjo, 1997:
149).
Di dalam kamp konsentrasi itulah, Frankl menyaksikan para
tahanan disiksa, diteror, dan dibunuh
secara kejam. Dia sendiri mengalami penderitaan yang luar biasa. Walaupun demikian,
di dalam keterbatasannya sebagai manusia, Frankl berusaha turut meringankan
penderitaan sesama tahanan, baik secara medis maupun secara psikologis. Dia
membesarkan hati mereka yang putus asa dan membantu menunjukkan hikmah dan arti
hidup, walaupun mereka dalam keadaan menderita. Sewaktu masuk tahanan dan waktu
pembebasan, Frankl juga melakukan pengamatan seksama sebagai reaksi mental dan
pola perilaku para tahanan serta menghayati pengalaman dan perasaannya sendiri
secara mendalam. Di dalam pengamatannya, Frankl melihat bahwa dalam keadaan yang
mencekam dan sarat dengan penderitaan, ada sebagian tahanan yang menunjukkan
sikap tabah, bertahan bahkan berusaha membantu sesama tahanan. Namun di lain
pihak, sebagian besar tahanan mengalami putus asa, apatis dan kehilangan
semangat hidup. Tidak jarang dari mereka melakukan bunuh diri guna membebaskan
diri dari penderitannya.
Dari kedua sikap
tersebut, Frankl melihat bahwa tahanan yang tetap menunjukkan sikap tabah dan mampu
bertahan itu adalah mereka yang berhasil mengembangkan dalam diri mereka
tentang harapan-harapan dimana akan tiba saat pembebasan dan dapat bertemu
kembali dengan anggota keluarganya, serta meyakini datangnya pertolongan Tuhan
dengan berbuat kebajikan, berhasil menemukan dan mengembangkan makna dari
penderitaan mereka (meaning in suffering) (Budiraharjo, 1997: 149-150).
Logoterapi bertugas membantu pasien
menemukan makna hidup. Artinya, logoterapi membuat si pasien sadar tentang
adanya logo tersembunyi dalam hidupnya (Frankl, 2004: 165). Logoterapi
mengajarkan bahwa manusia harus dipandang sebagai kesatuan raga-jiwa-rohani
yang tak terpisahkan. Seorang psikoterapis tidak mungkin dapat memahami dan
melakukan terapi secara baik, bila mengabaikan dimensi rohani yang justru
merupakan salah satu sumber kekuatan dan kesehatan manusia. Selain itu
logoterapi memusatkan perhatian pada kualitas-kualitas insani, seperti hasrat untuk
hidup bermakna, hati nurani, kreativitas, rasa humor dan memanfaatkan kualitas-kualitas
itu dalam terapi dan pengembangan kesehatan mental (Bastaman, 1996: 16).
Adapun
inti ajaran logoterapi
dirumuskan oleh Joseph
B. Fabry (1980: 34) sebagai
berikut:
1. Hidup
itu bermakna dalam kondisi apapun.
2. Kita
memiliki kehendak hidup bermakna dan menjadi bahagia hanya ketika kita merasa telah memenuhinya.
3. Kita
memiliki kebebasan – dengan segala keterbatasan – untuk memenuhi makna hidup
kita (Bastaman, 1996: 16).
Sedangkan tujuan utama logoterapi
adalah meraih hidup bermakna dan mampu mengatasi secara efektif berbagai
kendala dan hambatan pribadi. Hal ini diperoleh dengan jalan menyadari dan memahamai
serta merealisasikan berbagai potensi dan sumber daya kerohanian yang dimiliki
setiap orang yang sejauh ini mungkin terhambat dan terabaikan (Bastaman, 2000:
70). Apabila seseorang tidak mengerti potensi-potensinya, maka tugas utama
orang tersebut adalah menemukannya.
Selain
itu logoterapi juga
bertujuan menolong pasien
untuk menemukan tujuan dan maksud dalam hidupnya dengan memperlihatkan
bernilainya tanggung jawab dan tugas-tugas tertentu. Keyakinan bahwa orang
mempunyai tugas yang harus diselesaikan, mempunyai nilai psikoterapeutik dan
psikohigienik yang tinggi (Wijaya, 1988: 214).
Dalam
hal ini, terapis
harus menunjukkan kepada
pasien bahwa setiap hidup manusia
mempunyai tujuan yang unik yang dapat tercapai dengan suatu cara tertentu.
Untuk mencapai tujuan, pasien harus menyelesaikan tugas-tugas tertentu dan
bertanggung jawab dengan apa yang dilakukannya.
Penekanan pada
sikap bertanggung jawab
tercermin dalam doktrin logoterapi, yaitu: “Hiduplah seakan-akan anda sedang menjalani
hidup untuk kedua kalinya dan hiduplah seakan-akan anda sedang bersiap-siap
untuk melakukan tindakan yang salah untuk pertama kalinya”(Frankl, 2004: 173).
Selain itu dengan menerima
tantangan untuk menderita dengan berani, menjadikan hidup memiliki makna sampai
detik yang terakhir, dan mempertahankan makna ini, praktis sampai akhir. Dengan
kata lain, makna hidup adalah sesuatu yang tanpa syarat, karena dia juga mencakup
potensi-potensi yang berbentuk penderitaan yang tidak terhindarkan (Frankl, 2004
: 178-180)
BAB
III
PEMBAHASAN
A.
Studi
Kasus
1. Who
Klien
yang penulis tangani adalah seorang Ibu yang berinisial MG yang berusia 48
tahun, MG adalah orang tua tunggal karena sekitar 2,5 tahun yang lalu suami Ibu
MG meninggal dunia, dan kondisi sekarang MG mengasuh anaknya seorang diri. Ibu
MG memiliki seorang anak laki-laki yang berstatus sebagai pelajar SMP yang
berusia 15 tahun, dengan inisial PB . Pekerjaan Ibu MG pada saat ini adalah
bertani setelah sekitar 7 bulan yang lalu Ibu MG pensiun dari pekerjaan sebagai
perawat dari sebuah perusahan perkebunan milik Negara.
2. What
Permasalahan yang
dihadapi Ibu MG adalah selama hampir beberapa tahun belakangan ini, tepatnya
satu tahun setengah setelah kepergian
suaminya, sang anak PB mulai menunjukkan sikap yang berbeda. Berdasarkan
penuturan sang ibu kepada penulis, perubahan ini di mulai ketika sang anak (PB) mulai malas untuk pergi bersekolah di
mana sebelumnya PB termasuk anak yang tidak malas pergi ke sekolah, mau
mengantar ibunya untuk pergi ke ladang dan membantu ibunya bekerja di ladang
sepulang sekolah, meskipun sang ibu sudah berusaha untuk membujuk anak ke
sekolah, tapi sang anak PB tetap bersikap acuh. Bahkan sang anak mulai meminta
banyak hal kepada sang ibu, di mana PB akan bersekolah kembali jika Ibu MG mau
membelikannya handphone. Dan agar
anaknya mau bersekolah Ibu MG pun membelikan handphone kepada anaknya PB.
Setelah Ibu MG
membelikan handphone untuk anaknya PB, PB pun mulai rajin untuk pergi ke
sekolah, tapi ternyata hal ini tidak berlangsung lama hanya bertahan selama
beberapa bulan karena PB mulai berulah kembali dan mulai tidak masuk ke
sekolah. Hal ini di ketahui sang ibu MG karena guru PB menelepon Ibu MG
memberitahukan bahwa anaknya PB sudah beberapa hari tidak masuk sekolah dan
jika hal ini terus berlangsung maka PB bisa dikeluarkan dari sekolah karena
pada saat ini PB sudah duduk di kelas 3 SMP, karena absen PB sudah melebihi
batas maksimal yang diijinkan.
Ibu MG berusaha untuk
meminta keringanan agar anaknya tidak dikeluarkan dari sekolah dengan datang ke
sekolah dan menemui guru, wali kelas dan kepala sekolah anaknya PB. Bahkan Ibu
MG sampai ikut ke sekolah agar sang anak PB mau bersekolah, dan menuruti semua
keinginan anaknya, dengan membelikan kembali handphone karena ternyata
handphone yang dibeli hanya bertahan beberapa bulan dan handphone tersebut
sudah hilang. Semua itu dilakukan Ibu MG
agar PB mau bersekolah tapi usaha Ibu MG ini tidak berhasil karena sang anak PB
bersikeras untuk tidak mau lagi bersekolah, meskipun Ibu MG sudah menuruti
semua keinginan PB dengan membelikan kembali hanphone.
Kelakuan PB ini pun
semakin hari semakin parah, di mana PB mulai tidak pulang ke rumah, bahkan
handphone yang dibelikan pun hanya bertahan beberapa bulan juga. Dan PB semakin
bersikap tidak sopan kepada ibunya dengan memaki dan berkata kasar kepada Ibu
MG setiap kali Ibu MG menasehati anaknya untuk berubah.
Dengan kondisi PB yang semakin parah
dari hari ke hari maka Ibu MG pun mulai meminta bantuan kepada anggota keluarga
lain untuk membimbing dan menasehati anaknya PB. Menurut penuturan Ibu MG sang
anak bahkan sudah mulai mengancam sang Ibu, di mana jika Ibu MG tidak
memberikan PB uang, PB akan mengeluarkan kata-kata kasar.
Meskipun anggota
keluarga lainnya sudah berupaya untuk menasehati dan membimbing PB, hal ini
hanya bertahan sementara, PB akan bersikap baik kepada Ibu MG hanya jika di
hadapan para anggota keluarga lainnya, jika para anggota keluarga sudah pulang
ke rumah mereka masing-masing maka PB akan kembali ke sikap awalnya, mulai
bersikap kasar kepada ibunya dan mengamcam ibunya jika tidak diberikan uang
atau apapun yang di minta oleh PB.
Ibu MG tidak pernah
menyerah untuk anaknya, bahkan Ibu MG selalu menghubungi pihak sekolah agar
tetap memberika kesempatan kepada anaknya untuk
tetap bisa bersekolah dan bisa mengikuti UN, setidaknya anaknya bisa
menamatkan SMP, meskipun nantinya sang anak tidak mau melanjutkan ke jenjang
yang lebih tinggi.
Sebagai seorang ibu
yang ingin anaknya memiliki masa depan yang lebih baik, Ibu MG tetap berupaya
membujuk PB untuk mau bersekolah. Bahkan ketika PB meminta untuk dibelikan
motor, Ibu MG menuruti keinginan anaknya dengan membelikan motor agar anaknya
mau bersekolah dan mengikuti UN.
Setelah Ibu MG
membelikan motor kepada PB, PB pun mau bersekolah dan mengikuti UN, meskipun
selama proses tersebut PB tetap saja berulah dengan pulang larut malam bahkan
menjelang pelaksaan UN.
Sebagai seorang ibu
yang sangat mengasihi anaknya, Ibu MG tidak pernah berhenti untuk melakukan apa
yang terbaik buat anaknya, meskipun PB bukan darah dagingnya Ibu MG. Ibu MG
tetap berusaha agar anaknya PB tetap mau bersekolah, karena Ibu MG ingin
anaknya juga bisa punya masa depan yang lebih baik. Ibu MG berharap suat saat
nanti anaknya bisa menjadi seorang Polisi, bahkan Ibu MG sudah menyiapkan
tabungan untuk masa depan anaknya. Ibu
MG berkeinginan anaknya mau melanjutkan kembali sekolah ke jengang yang lebih
tinggi.
3. Why
Selama
melakukan komunikasi dengan Ibu MG, penulis berupaya untuk mengetahui apa
alasan PB tidak mau ke sekolah dan bersikap kasar. Berdasarkan penuturan Ibu MG
bahwa PB sudah mengetahui mengenai status PB yang bukan merupakan anak kandung
dari Ibu MG, dan mungkin ini adalah salah satu alasan kenapa PB bersikap kasar
dan melawan ibunya, karena mungkin ini bentuk pertahanan dirinya di mana PB
merasa dirinya akan tidak di sayangi lagi oleh Ibunya.
Ibu
MG yang juga berusaha mencari tahu apa sebabnya PB tidak mau lagi bersekolah, ternyata
PB merasa malu ke sekolah karena pernah di marahi dan di tampar oleh gurunya di
dalam kelas di depan teman-temannya. Guru tersebut memarahi dan menampar PB dengan alasan karena PB tidak memberikan
uang kembalian pembelian buku pelajaran kepada ibunya, karena guru berpesan
untuk mengembalikan uang kembalian itu kepada orang tua PB. Sebelumnya Ibu MG
menelepon guru tersebut, bahwa Ibu MG telah menitipkan uang buku pelajaran
kepada anaknya PB dan jika ada kelebihannya berikan saja kepada PB agar PB saja
yang mengembalikan kelebihan uangnya kepada Ibu MG. Esoknya guru PB menanyakan
kepada PB apakah sudah mengembalikan uang kelebihannya kepada Ibunya, PB
menjawa tidak mengembalikannya karena itu adalah uang ibunya dan ibunya juga
tidak akan marah jika dia tidak mengembalikannya karena ibunya juga sudah tahu.
Hal ini lah yang membuat guru tersebut marah dan menampar PB di depan
teman-temannya dan membuat PB malu untuk kembali bersekolah.
Hal
ini juga senada dengan yang disampaikan oleh PB kepada penulis, ketika penulis
mulai menjalin komunikasi dengan PB, PB mulai menceritakan apa alasan PB tidak
ingin ke sekolah, PB mengatakan bahwa dia merasa malu akan perlakuan gurunya
kepada dia yang menampar dan menghina PB di depan temannya. Dan PB juga
mengatakan apa alasannya kenapa dia berulah dan bersikap kasar kepada Ibunya.
Menurut
penuturan PB, dia merasa bahwa Ibunya tidak memperhatikan apa yang menjadi
kebutuhannya, seperti kurangnya makanan yang ada di rumah. PB ingin ibunya
menyediakan makanan seperti susu, makanan ringan dan tersedianya makanan siang
di rumah ketika dia pulang sekolah. Karena PB merasa ketika dia di titipkan di
rumah pamannya, semua makanan tersebut tersedia, dan hal itu yang tidak dia
dapatkan di rumah. Dan PB merasa ibunya kurang menepati janjinya, di mana sang
ibu berjanji akan mengajak PB untuk berlibur setelah UN selesai antara lain
yaitu berjiarah ke kuburuan bapaknya yang ada di Medan.
Ketika
penulis bertanya kepada PB, apakah ibu selalu tidak menenpati janji? , PB
menuturkan bahwa ibunya selalu tidak tepat janji dan ini sudah berlangsung lama
dan hal ini lah yang membuat PB bersikap tidak baik. PB menuturkan bahwa dengan
dia membuat ulahlah maka sang ibu akan menuruti keinginannya. Meskipun, selama
ini ibunya selalu memberikan apa yang menjadi keinginannya seperti membelikan
handphone, motor dan lain sebagainya, menurut PB hal itu diberikan karena dia
bersikap kasar terlebih dahulu baru dibelikan.
PB
juga menuturkan bahwa salah satu alasan lain dia bersikap tidak baik adalah
karena PB merasa ibunya lebih mendengarkan kakak sepupunya dan bibinya yang
merupakan adik ibunya. Dan tidak pernah mendengarkan atau mempertimbangkan
pendapatnya.
B.
Treatment
Setiap
masalah seharusnya ada jalan keluar untuk penyelesaiannya. Demikian juga halnya
dengan krisis keluarga yang merupakan masalah keluarga yang amat rumit (Wilis,
2011: 20). Karena harus dicari akar masalahnya lalu ditemukan solusinya.
Menurut Wilis (2011 : 20), akar masalah dari krisis keluarga bersumber pada:
1)Ayah, 2) ibu, 3) anak-anak (ibu,bapak, mertua atau orang lain). Jika
persoalan bersumber dari internal (ayah, ibu dan anak) mungkin penyelesaiannya
akan lebih jelas dan agak mudah.
Dengan
bermunculannya masalah keluarga tersebut diatas, maka bimbingan dan konseling
keluarga bisa menjadi solusi untuk membantu menyelesaikan masalah keluarga
tersebut sehingga dapat tercipta kembali hubungan yang harmonis, akrab, damai
dan penuh cinta di dalam hubungan ayah-ibu-anak
Secara umum,
tujuan family conseling/therapy (Perez, 1979).
adalah :
1) Membantu
anggota keluarga untuk belajar dan secara emosional menghargai bahwa dinamika
kelurga saling bertautan di antara anggota keluarga.
2) Membantu
anggota keluarga agar sadar akan kenyataan bila anggota keluarga mengalami
problem, maka ini mungkin merupakan dampak dari satu atau lebih persepsi,
harapan, dan interaksi dari anggota keluarga lainnya.
3) Bertindak
terus menerus dalam konseling/terapi sampai dengan keseimbangan homeostasis
dapat tercapai, yang akan menumbuhkan dan meningkatkan keutuhan keluarga.
4) Mengembangkan
apresiasi keluarga terhadap dampak relasi parental terhadap anggota keluarga.
Secara
khusus, family conseling/therapy bertujuan (Perez, 1979) untuk :
1) Membuat
semua anggota keluarga dapat mentoleransikan cara atau perilaku yang unik
(idiosyncratic) dari setiap anggota keluarga.
2) Menambah
toleransi setiap anggota keluarga terhadap frustrasi, ketika terjadi konflik
dan kekecewaan, baik yang dialami bersama keluarga atau tidak bersama keluarga.
3) Meningkatkan
motivasi setiap anggota keluarga agar mendukung, membesarkan hati, dan
mengembangkan anggota lainnya.
4) Membantu
mencapai persepsi parental yang realistis dan sesuai dengan persepsi anggota
keluarga
Secara
garis besar, prinsip yang penting dalam pendekatan ini adalah (Perez, 1979).:
1) Bukan
metode baru untuk mengatasi human problem.
2) Setiap
anggota adalah sejajar, tidak ada satu yang lebih penting dari yang lain. Situasi
saat ini merupakan penyebab dari masalah keluarga dan prosesnyalah yang harus
diubah.
3) Tidak
perlu memperhatikan diagnostik dari permasalahan keluarga, karena hal ini hanya
membuang waktu saja untuk ditelusuri.
4) Selama
intervensi berlangsung, konselor/terapist merupakan bagian penting dalam
dinamika keluarga, jadi melibatkan dirinya sendiri.
5) Konselor/terapist
memberanikan anggota keluarga untuk mengutarakan dan berinteraksi dengan setiap
anggota keluarga dan menjadi “intra family involved”.
6) Relasi
antara konselor/terapist merupakan hal yang sementara.
7) Relasi
yang permanen merupakan penyelesaian yang buruk.
8) Supervisi
dilakukan secara riil/nyata (conselor/therapist center)
Dalam
studi kasus ini, penulis mencoba untuk melakukan pendekatan menggunakan
logoterapi, di mana klien dibantu untuk menemukan nilai-nilai baru dan
mengembangkan filosofi konstruktif dalam kehidupannya. Oleh karena itu, seorang
logoterapis tidaklah mengobati gejala-gejala yang tampak pada pasien atau klien
secara langsung, akan tetapi mengadakan perubahan sikap neurotik pasien
terlebih dahulu. Klien bertanggungjawab pada dirinya sendiri dan logoterapis
memberikan dorongan untuk memilih, mencari dan menemukan sendiri makna konkrit
dari eksistensi pribadinya. Seorang logoterapis membantu klien untuk menyusun 3
macam nilai yang akan memberi arti pada eksistensi, yaitu : creative values,
experiental values, dan attitudinal values.
Dalam
proses terapi, klien diperlihatkan bagaimana membuat hidup menjadi penuh arti
dengan ‘the experience of love’. Pengalaman ini akan membuatnya mampu menikmati
ketulusan, keindahan dan kebaikan dan mampu mengerti akan manusia dengan
keunikan-keunikan pribadinya. Dengan demikian, diharapkan klien dapat melihat
bahwa penderitaan mungkin sangat berguna untuk membantunya dalam mengubah sikap
hidup.Sebagai contoh, situasi yang tidak dapat diperbaiki yang disebut oleh
Frankl sebagai ‘takdir’ mungkin harus diterima. “Dimana kita tidak lagi dapat
mengubah takdir dengan perbuatan, apapun keadaannya, sikap yang tepat untuk
menghadapi takdir adalah kita harus dapat menerimanya”
Ada empat tahap utama didalam
proses konseling logterapi diantaranya adalah:
1. Tahap
perkenalan dan pembinaan rapport. Pada tahap ini diawali dengan menciptakan
suasana nyaman untuk konsultasi dengan pembina rapport yang makin lama makin
membuka peluang untuk sebuah encounter. Inti sebuah encounter adalah
penghargaan kepada sesama manusia, ketulusan hati, dan pelayanan. Percakapan
dalam tahap ini tak jarang memberikan efek terapi bagi konseli.
2. Tahap
pengungkapan dan penjajagan masalah. Pada tahap ini konselor mulai membuka
dialog mengenai masalah yang dihadapi konseli. Berbeda dengan konseling lain
yang cenderung membiarkan konseli “sepuasnya” mengungkapkan masalahnya, dalam
logoterapi konseli sejak awal diarahkan untuk menghadapi masalah itu sebagai
kenyataan.
3. Pada
tahap pembahasan bersama, konselor dan konseli bersama-sama membahas dan
menyamakan persepsi atas masalah yang dihadapi. Tujuannya untuk menemukan arti
hidup sekalipun dalam penderitaan.
4. Tahap
evaluasi dan penyimpulan mencoba memberi interpretasi atas informasi yang
diperoleh sebagai bahan untuk tahap selanjutnya, yaitu perubahan sikap dan
perilaku konseli. Pada tahap-tahap ini tercakup modifikasi sikap, orientasi
terhadap makna hidup, penemuan dan pemenuhan makna, dan pengurangan symptom.
C.
Tahapan
Konseling
|
Tahap
perkenalan dan pembinaan rapport.
|
|
Pada
tahap ini, penulis mencoba untuk menjalin komunikasi dengan PB, di mana selama
ini penulis hanya mendengar dan berkomunikasi dengan Ibu MG. Penulis merasa
perlu untuk mengenal dan berkomunikasi dengan PB agar penulis dapat
mengetahui lebih dalam apa yang menjadi permasalahan sebenarnya.
Komunikasi
dengan PB dilakukan melalui via telepon, di mana sebelumnya penulis dan PB
sudah saling mengenal dan pada tahap ini penulis mencoba untuk menciptakan
suasana nyaman agar PB mau berbicara dan mencerikan apa yang menjadi
masalahnya.
Pada
awal berbicara, saya menanyakan apa kabar PB dan apa yang sedang
dilakukannya. Karena pada saat ini PB dititipkan di rumah pamannya untuk
sementara waktu. Informasi ini saya dapatkan dari Ibu MG, bahwa PB dititipkan
di rumah pamannya agar PB bisa dididik dan dibimbing oleh pamannya.
Ketika
saya bertanya apa yang dilakukan PB pada saat itu, PB berkata bahwa dia
sedang membuat artikel mengenai sejarah, ketika saya mengatakan bahwa itu
adalah hal yang bagus dan positif, PB menjawab dengan mengatakan bahwa dia
memiliki banyak artikel yang sudah dia tulis selama ini. Dan saya juga
memberikan motivasi kepada PB bahwa dia harus terus mengasah kemampuannya
tersebut karena dengan berlatih menulis, PB bisa mempunyai kesempatan menjadi
penulis terkenal suatu saat nanti jika dia terus melatih kemampuannya
tersebut.
Kemudian
PB juga menceritakan mengenai niatnya untuk kembali melanjutkan studi nya ke
STM dengan mengambil jurusan otomotif. Dan dengan antusias PB kemudian
bercerita kalau dia memiliki pengalaman bekerja di bengkel , dia bercita-cita
ingin membuka bengkel. Pada tahap ini saya mencoba untuk memberikan motivasi
dan mengarahkan PB, bahwa PB bisa mewujudkan cita-cita nya jika PB mau serius
belajar dan sekolah. Dan penulis juga mengatakan bahwa jika PB mau
mengandalkan Tuhan dan belajar dengan tekun, PB pasti akan menjadi pribadi
yang berhasil.
Percakapan
pada tahap ini juga memberikan efek terapi bagi konseli.
|
|
Tahap
pengungkapan dan penjajagan masalah.
|
|
Pada tahap ini saya mulai membuka
dialog mengenai masalah yang dihadapi PB. Berbeda dengan konseling lain yang
cenderung membiarkan konseli “sepuasnya” mengungkapkan masalahnya, dalam
logoterapi konseli sejak awal diarahkan untuk menghadapi masalah itu sebagai
kenyataan.
Pada tahap komunikasi ini, PB mulai
mengungkapkan apa yang dirasakannya. PB mengungkapkan apa yang membuat dia
bersikap malas ke sekolah dan berulah selama ini. Di sini PB mengungkapkan
apa yang menjadi alasannya dia malas ke sekolah, di mana PB tidak menyukai
sikap gurunya yang suka mempermalukan dan bahkan mau menampar siswanya di
depan siswa-siswa yang lainnya. PB juga mengatakan bahwa dia pernah ditampar
dan di marahi gurunya di depan teman-temannya dan hal inilah yang membua PB
enggan ke sekolah karena dia merasa dipermalukan.
PB juga mulai mengungkapkan
kekecewaannya terhadap Ibunya yang kurang memperhatikan dirinya. Di sini PB
mulai membandingkan perlakuan yang dia peroleh di rumah pamannya , di mana
semua makanan tersedia jika dia ingin makan, seperti susu dan makanan
lainnya. Karena PB berharap ibunya juga bisa memperlakukan dia seperti
perlakuan paman dan bibinya saat ini. Dan PB juga mengutarakan bahwa dia
merasa kecewa atas sikap ibunya yang tidak menepati janji untuk mengajaknya
berlibur dan membelikan laptop jika dia sudah menyelesaikan SMP.
Di sini saya mencoba untuk memberikan
suatu pemahaman kepada PB, bahwa bagaimana selama ini Ibunya mencoba untuk
memenuhi semua kebutuhannya sebagai tanda bahwa ibunya sangat mengasihi dan
menyayangi PB, tanpa mengungkit dan menyudutkan PB atas semua sikap dan
perlakuannya selama ini.
Pada tahap ini saya juga bertanya
kepada PB, apakah PB pernah mengungkapkan apa yang dia rasakan kepada
ibunya?, PB berkata bahwa dia belum
pernah mengungkapkan apa yang dia rasakan kepada ibunya. Di sini saya mencoba
untuk menyarakan agar PB mau menceritakan apa yang dia rasakan kepada ibunya,
karena ketika saya mulai memberikan pehamaham kepada PB bagaiamana rasa
sayang ibunya selama ini kepadanya membuat PB menangis, bagaimana perjuangan
ibunya yang berjuang sendiri untuk mencari uang dan membersarkan PB dan pada
tahap ini merasa bersalah atas sikap yang dia perbuat kepada ibunya. Untuk
itulah saya menyarankan PB untuk berani mengungkapkan apa yang dia rasakan
kepada ibunya dan berani untuk meminta maaf kepada ibunya.
Pada tahap ini PB juga di arahkan
untuk lebih melihat ke masa depannya, di mana jika PB ingin mewudujkan
cita-citanya maka PB harus mau untuk belajar lebih tekun dan mau memperbaiki
dirinya.
Komunikasi dengan PB saya akhiri
dengan menanyakan kembali apa masih ada yang menganjal di hatinya dan apakah
PB mau berbicara dengan ibunya. Di sini PB mengungkapkan bahwa dia bersedia
berbicara dengan ibunya. Dan komunikasi saya akhiri dengan mengucapkan terima
kasih kepada PB yang sudah mau bercerita dan percaya kepada saya. Dan saya
juga menanyakan kepada PB apakah saya bisa menelepon dia pada esok hari untuk
mengetahui bagaimana pembicaraannya dengan ibunya, PB mengatakan kesiapannya.
|
|
Pada tahap pembahasan bersama,
konselor dan konseli bersama-sama membahas dan menyamakan persepsi atas
masalah yang dihadapi. Tujuannya untuk menemukan arti hidup sekalipun dalam
penderitaan
Pada tahap ini, saya berusaha untuk
menyamakan presepsi atas masalah yang dihadapi oleh dihadapi oleh Ibu MG dan
PB. Saya mencoba memberikan motivasi kepada Ibu MG yang merasa sudah gagal
menjadi seorang ibu, karena Ibu MG merasa bahwa apa yang dia berikan dan
usahakan untuk MG semua sia-sia. Dan Ibu MG merasa bahwa dia adalah pribadi
yang sangat tidak beruntung karena setelah ditinggal oleh suaminya, semua
permasalahan datang, di mana Ibu MG harus pergi ke ladang sendiri karena
selama ini Ibu MG selalu bersama suaminya kemanapun mereka pergi, Ibu MG
merasa tidak ada teman untuk berbagi ketika dia sedang mengalami masalah,
ditambah dengan kenakalan anaknya dan
dia merasa tidak sanggup untuk menjalani hidupnya.
Dan begitu juga dengan PB yang merasa
kekosongan dalam dirinya, selama ini dia merasa tidak ada yang menyayangi
dirinya, alasannya karena PB merasa ibunya lebih mendengarkan dan percaya
kepada apa yang dikatakan oleh orang lain. Sehingga PB mencari teman ataupun
orang lain yang dianggap oleh PB lebih percaya dan perduli kepada dirinya.
Pada tahap ini saya mencoba untuk
memberikan penguatan kepada Ibu MG dan PB dengan tidak melihat apa yang
mereka alami sebagai suatu penderitaan yang harus diratapi tetapi sebagai
sesuatu yang dapat dimaknai dalam hal positif.
Terhadap Ibu MG, saya mencoba untuk
memberikan suatu pemahaman bahwa kematian suaminya adalah merupakan bagian
dari rencana Tuhan dan tidak seorangpun yang dapat mengelak dari rencana
Tuhan tersebut. Pada tahap ini saya juga mencoba mengarahkan Ibu MG agar
lebih fokus pada tugas dan tanggungjawabnya sebagai seorang Ibu, di mana Ibu
MG masih memiliki anak yang membutuhkan dirinya. Dan saya mencoba untuk
mengarahkan Ibu MG untuk meraih hidup bermakna
dan mampu mengatasi secara efektif berbagai kendala dan hambatan pribadi. Hal ini diperoleh dengan jalan
menyadari dan memahamai serta
merealisasikan berbagai potensi dan sumber daya kerohanian yang dimiliki setiap orang yang
sejauh ini mungkin terhambat dan
terabaikan (Bastaman, 2000: 70). Apabila seseorang tidak mengerti potensi-potensinya, maka tugas
utama orang tersebut adalah menemukannya.
Begitu juga dengan PB, pada tahap ini
saya mencoba memberikan pengarahan kepada PB bahwa dia juga masih mempunya
masa depan dan dapat meraih cita-citanya jika PB punya komitmen untuk rajin
belajar dan mau untuk bersekolah. Di sini saya mencoba memberikan gambaran
kepada PB jika dia punya komitmen yang tinggi untuk bersekolah maka dia pasti
akan mampu mewujudkan cita-cita daripada dia tidak bersekolah dan bergaul
dengan teman-teman yang tidak memberikan dampak positif dalam kehidupannya.
Misalnya dengan bersekolah PB akan mendapatkan ilmu bagaimana menjadi seorang
mekanik yang handal sehingga dengan menjadi mekanik yang handal dia akan
mempunyai penghasilan yang lumayan dan bagaimana orang akana menghargai PB
jika dia bisa menjadi pribadi yang sukses. Saya mencoba untuk menyampaikan
kepada PB, bahwa bagaimana selama ini usaha Ibu MG agar PB bisa bersekolah
dan memenuhi hampir setiap kebutuhan PB. Dan menyampaikan kepada PB apa yang
seharusnya menjadi tanggungjawabnya sebagai seorang anak dan pelajar,
bagaiaman seharusnya dia mengasihi Ibunya yang berjuang sendiri untuk
menghidupi kehidupan mereka berdua
Dan saya juga mencoba memberikan
motivasi kepada Ibu MG dan PB untuk lebih menemukan makna hidup mereka, bahwa
Tuhan pasti mempunyai rencana yang indah dalam kehidupan mereka. Begitu juga
kepada PB, bahwa Tuhan akan memberkati anak yang mengasihi orang tuanya dan
Tuhan pasti akan mau membantu PB jika PB selalu mengandalkan Tuhan dalam
kehidupannya.
Logoterapi bertugas membantu pasien
menemukan makna hidup. Artinya, logoterapi membuat si pasien sadar tentang
adanya logo tersembunyi dalam hidupnya (Frankl, 2004: 165). Selain itu
logoterapi juga bertujuan
menolong pasien untuk
menemukan tujuan dan maksud dalam hidupnya dengan memperlihatkan
bernilainya tanggung jawab dan tugas-tugas
tertentu. Keyakinan bahwa orang mempunyai tugas yang harus diselesaikan, mempunyai nilai psikoterapeutik
dan psikohigienik yang tinggi (Wijaya, 1988: 214).
|
|
Tahap evaluasi dan penyimpulan
mencoba memberi interpretasi atas informasi yang diperoleh sebagai bahan
untuk tahap selanjutnya
|
|
Pada tahap ini saya mencoba untuk menunjukkan kepada
Ibu MG dan PB bahwa setiap hidup manusia mempunyai tujuan yang unik
yang dapat tercapai dengan suatu cara tertentu. Untuk mencapai tujuan, Ibu MG
dan PB harus menyelesaikan tugas-tugas tertentu dan bertanggung jawab dengan
apa yang dilakukannya. Dalam rangka mencapai semua itu, pasien harus berpacu dengan waktu, karena
hidup manusia dibatasi oleh kematian dengan apa yang dilakukannya. Dalam
rangka mencapai semua itu, pasien
harus berpacu dengan waktu, karena hidup manusia dibatasi oleh kematian.
Frankl menekankan bahwa
kematian atau ketidakkekalan hidup tidak membuat hidup itu tidak bermakna.
Ketidakkekalan hidup lebih terkait
dengan sikap bertanggung jawab, karena segala sesuatunya tergantung dari kemampuan kita untuk
mewujudkan kemungkinan-kemungkinan yang pada dasarnya bersifat tidak kekal
(Frankl, 2004:
188).
Jadi kematian bukanlah
tidak berarti, yang
menjadikan hidup terbatas. Seandainya hidup tidak terbatas,
maka aktivitas dapat dengan mudah ditunda-tunda, pilihan-pilihan dan
keputusan-keputusan menjadi tidak perlu, dan dengan demikian tidak akan ada tanggung
jawab.
Logoterapi tidak menyikapi setiap
penderitaan (termasuk kematian)
secara pesimistis, tetapi secara aktif. Frankl menekankan
sikap optimis dalam
menjalani kehidupan dan mengajarkan bahwa tidak ada penderitaan dan
aspek negatif yang tidak dapat diubah menjadi sesuatu yang positif. Karena
manusia mempunyai kapasitas untuk melakukan hal itu dan mampu mengambil sikap
yang tepat terhadap apa yang
sedang dialaminya
|
Logoterapi percaya bahwa perjuangan untuk
menemukan makna dalam hidup seseorang merupakan motivator utama orang tersebut.
Oleh sebab itu Viktor Frankl (2004: 159-160) menyebutnya sebagai keinginan
untuk mencari makna hidup, yang sangat berbeda dengan pleasure principle
(prinsip kesenangan atau lazim dikenal dengan
keinginan untuk mencari kesenangan)
yang merupakan dasar dari aliran psikoanalisis Freud dan juga berbeda dengan
will to power (keinginan untuk mencari kekuasaan), dasar dari aliran psikologi
Adler yang memusatkan perhatian pada striving for superiority (perjuangan untuk
mencari keunggulan).
Oleh
karena itu, kenikmatan
sekalipun tidak dapat
memberi arti kepada hidup manusia. Orang yang dalam
hidupnya terus menerus mencari kenikmatan, akan gagal mendapatkannya karena ia
memusatkannya pada hal-hal tersebut. Orang itu akan mengeluh bahwa hidupnya
tidak mempunyai arti yang disebabkan oleh aktivitas -aktivitasnya yang tidak
mengandung nilai-nilai yang luhur. Jadi yang penting bukanla aktivitas yang
dikerjakannya, melainkan bagaimana caranya ia melakukan aktivitas itu, yaitu
sejauh mana ia dapat menyatakan keunikan dirinya dalam aktivitasnya itu.
BAB
III
KESIMPULAN
Ada banyak upaya yang dapat dilakukan untuk
menyelesaikan masalah/ krisis keluarga. Ada dengan cara tradisional dan ada
pula dengan cara modern atau yang sering disebut dengan cara ilmiah. Pemecahan
masalah keluarga dengan cara tradisional terbagi dua bagian. Pertama, kearifan
atau dengan cara kasih sayang, kekeluargaan. Kedua orang tua dalam menyelesaikan
krisis keluarga terutama yang berhubungan dengan masalah anak dan istri. Cara
ilmiah adalah cara konseling keluarga (family conseling).
Dalam
melakukan konseling keluarga diperlukan beberapa teori konseling yang dapat
menunjang pelaksanaan konseling, salah satunya yang dibahas dalam makalah ini
yaitu logoterapi yang merupakan salah satu bentuk psikoterapi eksistensial yang
didasarkan atas analisis arti dari eksistensi seseorang. Pendekatan
eksistensial berkembang sebagai reaksi atas dua model utama yang lain,
psikoanalisis dan behaviorisme. Pendekatan logoterapi sangat menekankan pada
menemukan makna dari penderitaannya dan juga makna mengenai kehidupan dan
cinta. Oleh karena itu, dalam penerapan logoterapi dalam konseling keluarga pun
ditujukan untuk mencapai tujuan tersebut.
Logoterapi
tidak menyikapi setiap
penderitaan (termasuk kematian)
secara pesimistis, tetapi secara aktif. Frankl
menekankan sikap optimis
dalam menjalani kehidupan dan
mengajarkan bahwa tidak ada penderitaan dan aspek negatif yang tidak dapat
diubah menjadi sesuatu yang positif. Karena manusia mempunyai kapasitas untuk
melakukan hal itu dan mampu mengambil sikap yang tepat terhadap apa yang sedang
dialaminya.
Logoterapi bertugas
membantu pasien menemukan makna hidup. Artinya, logoterapi membuat si pasien
sadar tentang adanya logo tersembunyi dalam hidupnya (Frankl, 2004: 165). Selain itu
logoterapi juga bertujuan
menolong pasien untuk
menemukan tujuan dan maksud dalam hidupnya dengan memperlihatkan
bernilainya tanggung jawab dan tugas-tugas
tertentu. Keyakinan bahwa orang mempunyai tugas yang harus diselesaikan, mempunyai nilai psikoterapeutik
dan psikohigienik yang tinggi (Wijaya, 1988: 214).
DAFTAR
PUSTAKA
Frankl,
V. E (1984).man’s Search for Meaning. New York : Washington Square Press.
Frankl,
V. E (2004). Logoterapi : Terapi Psikologi Melalui Pemaknaan Eksistensi.
Yogyakarta : Kreasi Wacana.
Bastaman, H.D. (2007). Logoterapi “Psikologi untuk Menemukan Makna
Hidup dan Meraih Hidup Bermakna”. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
___________ (1996) Meraih Hidup Bermakna. Kisah Pribadi dengan
Pengalaman Tragis.Jakarta : Paramadina.
Budiraharjo, (1997) Mengenal Teori Kepribadian Mutakhir Yogyakarta
: Kanisus
Boeree, C George.. (2005). Personality Theories. Jogjakarta :
Prismasophie.
BKKBN.
(2012), Evaluasi Program Kependudukan dan KB,Semarang
Fabry, Joseph B, (1980),
Pursuit of Meaning,
New York : Harper and Row
Gerald Corey. (2007). Teori dan Praktek Konseling. Bandung: PT
Refika Aditama
Willi’s, Sofyan S. (2004). Konseling Individul Teori dan Praktek.
Bandung : Alfabeta.
Willis, Sofyan S. (2011). Konseling Keluarga. Bandung : Alfabeta
Koeswara, E. (1992). Logotherapy : Psikoterapi Victor
Frankl.Yogyakarta : Kanisus
Perez,
Joseph F. (1979.) Family Counseling : Theory and Practice. New York, Van Nostrand,
Co
Wijaya Juhana , (1988),Psikologi Bimbingan,Bandung: PT. Eresco,
Mirowsky,
John, dan Catherine E. Ross. 1989. "Psychiatric Diagnosis as Reified Measurement."
Journal of Health and Social Behavior. 30(1): 1 1-25
Ross, Catherine E., and John Mirowsky. 1989. "Explaining the
Social Patterns of Depression:
Control and Problem-solving -- or Support and Talking." Journal of Health and Social
Behavior. 30(2): 206-1 9
Control and Problem-solving -- or Support and Talking." Journal of Health and Social
Behavior. 30(2): 206-1 9
Praktikno. (2005). Mobilitas
Penduduk. Jakarta: Rajawali Press
Sugeng.
(2010). Pengertian Keluarga. Jakarta : Erlangga